Feeds:
Posts
Comments

Untuk Danau Toba

<ditulis setelah mengikuti acara Horas Indonesia di Tokyo, 2010)

Sabtu, minggu yang lalu, saya menghadiri sebuah acara pagelaran seni yang diselenggarakan oleh kawan-kawan PERMATA Sakura (Perkumpulan Masyarakat Batak di Jepang). Pagelaran seni yang diberi nama Horas Indonesia 2010 tersebut mengambil tema Go To Green Lake Toba (Hijaukan Danau Toba).

Kalau kulihat proposal kegiatan yang dimuat di facebook grup PERMATA Sakura, salah satu latar belakang dari pelaksanaan acara ini adalah adanya kagalauan di hati kawan-kawan yang tergabung dalam PERMATA Sakura mengenai keberadaan hutan untuk menopang ekosistem lingkungan hidup di sekitar Danau Toba. Kegalauan dan keprihatinan ini dipicu oleh kondisi dimana daerah hulu Danau Toba yang sudah mulai menggundul akibat penebangan hutan yang tidak terkendali. Dengan demikian, melalui pagelaran seni ini, PERMATA Sakura ingin memberikan kontribusinya bagi Danau Toba. Ikut serta berpartisipasi menggalang dana untuk menghijaukan kembali kawasan Danau Toba. Dan selain bertujuan untuk menggalang dana, pagelaran ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kawasan Danau Toba sebagai salah satu daerah tujuan wisata ke masyarakat Jepang. Biar mereka tak hanya tahu Bali, Bali dan Bali lagi.

Secara umum saya bisa katakan bahwa pagelaran seni tersebut berjalan lancar dan sukses. Kerja keras panitia dan dukungan para sponsor tidaklah sia-sia. Rangkaian tarian tor-tor mula-mula, tari gabor (bali), penampilan grup angklung, tari telek (bali), tari angin
mamiri, persembahan lagu lagu Batak yg dibawakan oleh grup paduan suara yang beranggotakan orang Jepang (Tokyo lagu-lagu kai), tarian medan berantai (tari kaparinyo, selayang pandang, gondang hata sopisik, terang bulan) yang ditampilkan secara berurutan
telah berhasil memukau seluruh penonton yang hadir. Saya sampai merinding saat mendengar lagu “Butet” yang dimainkan oleh grup angklung dan saat mendengar lagu “Nasonang do hita nadua” yang dibawakan oleh paduan suara  “Tokyo lagu-lagu kai”. Di sela-sela acara, panitia juga melakukan pemutaran video yang bertema “Lungun ma ho di tano batak”. Video ini menggambarkan kondisi Danau Toba saat ini, kondisi hutan di sekitar danau toba saat ini, dan ajakan untuk ikut berpartisipasi membantu pembenahan ekosistem di sekitar Danau Toba.

Pagelaran seni ini bisa saya katakan mencapai dua sukses. Selain sukses penampilan di panggung, menurut saya acara ini juga tergolong sukses dilihat dari jumlah penonton yang hadir. Dari sebelah kiri, bagian belakang gedung bisa saya amati bahwa penonton yang hadir cukup banyak, dan sebagian besar dari penonton yang hadir itu adalah orang Jepang. Orang-orang yang diharapkan mau berbagi informasi tentang Danau Toba kepada orang-orang Jepang lainnya.

Terlepas dari suksesnya pelaksanaan pagelaran seni Horas Indonesia 2010, dalam kesempatan ini saya ingin memberi catatan khusus kepada panitia kegiatan. Menurut saya, dalam hal acara penyerahan penghargaan, mereka sudah layak menerima tepuk tangan sambil berdiri. Dalam hal dunia per-facebook-an, mereka sudah layak menerima banyak jempol. Saya salut dengan pengorbanan pikiran, waktu, tenaga, dan materi yang telah mereka untuk Danau Toba. Untuk Danau Toba yang lebih hijau dan bersih.

Membayangkan semangat dan unjuk kerja panitia ini, saya jadi berpikir tentang fenomena orang-orang batak perantauan yang telah memberikan pikiran dan tenaga mengenai pengembangan bona pasogit, khususnya kawasan Danau Toba. Setahu saya, saat ini ada
beberapa perkumpulan formal maupun tidak formal di Indonesia yang bertujuan untuk pengembangan kawasan Danau Toba. Sepanjang yang saya baca di media massa, sudah banyak yang mereka lakukan, seperti: pelaksanaan seminar, malam dana, penanaman pohon, penebaran benih ikan, dll. Selain kegiatan kawan-kawan di Indonesia, saya juga jadi ingat seorang kawan yang tinggal Inggris, yang aktif dalam gerakan pengembangan pariwisata Danau Toba. Melalui gambar-gambar di facebook, saya bisa melihat kegiatan pagelaran seni batak yang dilakukan oleh kawan-kawan di amerika dan jerman.

Satu hal yang bisa saya simpulkan dari fenomena di atas yaitu bahwa masih banyak orang-orang di perantauan yang memberikan hati, pikiran bahkan tenaga untuk pengembangan bona pasogit, khususnya kawasan danau toba. Ada yang melakukan tindakan langsung, ada pula tindakan yang tidak langsung. Ada tindakan yang berhasil diliput media, dan ada juga yang tidak diliput media.

Saat asyik mendengar lagu “O Tano Batak” melalui alunan angklung, tiba-tiba angan-angan saya tertuju ke wilayah kawasan Danau Toba. Kawasan yang sedang “dijual” melalui pagelaran seni Horas Indonesia 2010 tersebut. Kawasan yang untuk sementara saya
tinggalkan sekitar satu setengah tahun yang lalu. Dalam angan-angan itu, saya jadi teringat dengan sikap pemerintah daerah di sekitar Danau Toba yang menurut saya belum berpikir dan berusaha optimal untuk menjaga lingkungan kawasan Danau Toba. Sikap yang
cenderung kontradiktif dibanding para anak rantau yang rela memberi pikiran dan tenaga untuk danau toba. Termasuk di dalamnya pikiran dan tenaga kawan-kawan panitia Horas Indonesia 2010.

Saya menilai bahwa dalam hal pengelolaan lingkungan Danau Toba, pemerintah daerah (pemda 7 kabupaten) masih cenderung bergerak dalam tataran konsep. Kalaupun ada program yang dilakukan, program ini hanya berdasar pada proyek saja. Tidak ada perencanaan yang matang, tidak ada evaluasi terhadap program yang telah dilakukan, dan juga hampir tidak ada program yang berkelanjutan. Padahal, menurut saya, pemerintah daerah memiliki peranan yang sangat penting untuk menjaga kelestarian lingkungan danau toba. Mereka punya uang, mereka punya sumber daya manusia, dan mereka bisa membuat kebijakan yang dituangan dalam peraturan.

Memang, beberapa tahun yang lalu sudah dibentuk satu forum yang melibatkan kepala daerah 7 kabupaten yang terletak di kawasan danau toba. Namun, sampai saat ini belum terlihat output yang nyata dari forum ini. Sepertinya masing-masing pemda masih bergerak sendiri-sendiri. Atau mungkin mereka malah diam sendiri-sendiri.

Saya prihatin dengan berita penangkapan Kadis Kehutanan Toba Samosir. Kadis ini ditangkap karena disangka membuat kesalahan dalam penerbitan izin penebangan kayu tanah milik (IPKTM). Entah kenapa, saya juga sangat emosi membaca tanggapan salah seorang pejabat daerah Samosir saat menanggapi bencana banjir di Samosir baru-baru ini yang telah menewaskan satu orang dan membuat empat warga hilang. Kepada wartawan Kompas, Asisten Pemerintahan Kabupaten Samosir, Ombang Siboro, menyatakan bahwa belum jelas warga dari mana yang melakukan perambahan kawasan hutan di Tombak Haranggaol. Dia berkata, “Itulah  makanya kami minta Pemprov Sumut agar membantu mengatasi persoalan tapal batas kabupaten ini, biar jelas nanti kawasan tangkapan air ini dijaga oleh pemerintah kabupaten yang mana. Kalau tanpa kejelasan begini, tak ada yang berwenang menjaga kawasan tersebut”.

Menurut saya, apa yang disampaikan pejabat daerah ini sangat tidak masuk akal. Mencari alasan, tetapi jauh panggang dari api. Dua kabupaten yang dia sebutkan sudah lebih dari lima tahun berdiri, tetapi mengapa persoalan tapal batas ini baru dibicarakan sekarang? Kalau sudah ada forum 7 kabupaten, trus mengapa harus menunggu campur tangan provinsi? Apakah mereka tak bisa bertemu, berdiskusi, dan mencari keputusan terbaik untuk daerah dan masyarakat. Apakah mereka tak bisa lebih memikirkan kepentingan masyarakat dibanding memajukan ego pemerintahan masing-masing?

Memang masih banyak persoalan yang dihadapi dalam rangka menjaga lingkungan kawasan danau toba. Semua pihak harus terlibat, meliputi: pemerintah daerah, masyarakat sekitar, pelaku usaha, dan anak rantau. Di antara pihak-pihak ini, saya berpandangan bahwa pemerintah daerah harus berfungsi sebagai “leader”, bertugas untuk memimpin komponen-komponen lainnya. Alasan untuk mendahulukan peran pemerintah daerah adalah karena selain mempunyai uang, sumber daya manusia, dan peraturan, pemerintah daerah merupakan organisasi yang terstruktur. Karena jalur komandonya lebih jelas, maka pemberdayaan organisasi ini juga  cenderung lebih mudah untuk dilakukan dibanding komponen-komponen yang lain.

Atas dasar itu, untuk mengoptimalkan peran pemerintah daerah dalam rangka menjaga kelestarian kawasan Danau Toba, maka pemerintah daerah perlu didorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang lebih nyata dan lebih efektif. Dalam hal tindakan teknis dan nyata, beberapa hal yang bisa kita sampaikan kepada mereka, di antaranya:

1. Mereka perlu didorong untuk melakukan pendataan yang lebih baik tentang hutan di masing-masing kabupaten. Membuat data yang valid mengenai hutan yang bisa berproduksi atau kawasan yang tergolong hutan lindung.
2. Mereka perlu didorong untuk membuat peraturan daerah yang lebih jelas mengenai pengelolaan hutan. Peraturan daerah yang lebih jelas ini ditujukan untuk menghindari pembalakan liar yang mempunyai izin dari oknum-oknum tertentu di pemerintahan. (seperti kasus yang terjadi di Tobasa).
3. Mereka perlu didorong untuk membuat peraturan daerah mengenai pengelolaan lingkungan di sekitar danau toba. Dengan adanya peraturan daerah ini, diharapkan program dan anggaran yang berkelanjutan bisa diwujudkan.
4. Mereka perlu didorong untuk membuat peraturan daerah yang berhubungan dengan kebersihan seluruh garis pantai Danau Toba. Dengan adanya perda ini, maka diharapkan pemda akan membangun sistem pembuangan sampah di sekitar pantai danau toba. Kalau boleh memberi usul, menurut saya penerapan denda bagi orang yang membuang sampah di pantai danau toba perlu diterapkan secara ketat dan konsisten.

5. Mereka perlu didorong untuk meningkatkan kerja sama antar kabupaten yang ada disekitar danau toba. Khususnya kerja sama dalam pengelolaan obyek-obyek wisata. Dengan adanya kerja sama yang lebih baik, diharapkan kerja akan lebih efektif dan efisien. Efisien dalam penggunaan waktu, terutama dalam penggunaan anggaran.

Saya membayangkan turis yang memilih untuk berwisata ke Danau Toba tak hanya disuguhi dengan pemandangan Danau Toba saja, tetapi diberi pilihan paket untuk mengunjungi obyek-obyek wisata yang lain. Seperti: wisata alam di Taman Eden, melihat kera di bukit parapat, atarksi gantole di huta ginjang, mandi air panas di sipaholon, dll.

Banyak hal yang bisa diberikan oleh anak rantau untuk Danau Toba. Ada yang memberikan pemikiran, ada yang memberi tenaga dan juga ada yang memberi materi. Namun, selain ketiga hal yang disebutkan di atas, saya rasa kita juga perlu memberi dorongan dan tekanan kepada pemerintah daerah. Dorongan dan tekanan agar mereka sungguh-sungguh melakukan kewajiban mereka, agar mereka lebih memikirkan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi atau kumpulan orang. Sekali-sekali, kita perlu keras kepada pemerintah

Mengapa?

Air mata bercucuran di pipinya. Mungkin karena terus menerus menangis, matanya sudah memerah dan hampir bengkak. Sepertinya dia masih belum bisa menerima kenyataan yang telah dialaminya. Dia juga tak bisa membayangkan masa-masa yang akan dihadapinya.

Togi sudah hampir 6 bulan di Jepang. Dia menjejakkan kakinya di bandara Narita tepat pada puncak mekarnya bunga sakura, bulan April yang lalu. Saat itu, dengan semangat dan senyum bangga, dia berjalan menyusuri lorong pintu keluar pesawat. Di pikirannya, terlintas pesan ibunya untuk hati-hati di negeri orang. “Pantun hangoluan, tois hamagoan”, kata ibunya saat acara makan malam keluarga sehari sebelum dia berangkat ke Medan. Dia terbayang dengan acara partangiangan keluarga, yang mendoakannya agar baik-baik selama bekerja di Jepang. Dia teringat juga dengan harapan-harapan temannya naposo bulung gereja apabila dia pulang kelak ke Siborongborong setelah 3 tahun bekerja di Jepang. “Bawa uang yang banyak Lae, biar ada nanti modal kita beternak babi, seperti peternakan yang ada di Sinur”, kata salah satu temannya dalam perjalanan pulang latihan koor.

Togi memang tergolong beruntung dibandingkan dengan kawan-kawannya sesama naposo dan juga teman-teman seangkatan di SMK Siborongborong. Saat itu, sekitar 1 bulan setelah kelulusannya dari sekolah, ada informasi penerimaan tenaga kerjakontrak di Jepang. Dalam bahasa Jepangnya disebut kensyuse. Informasi itu dibuat pada spanduk yang dipampangkan di jalan lintas umum Balige-Tarutung. Sebagian besar anak muda di Siborongborong, khususnya lulusan SMK tempat Togi bersekolah tertarik dengan tawaran ini. Beramai-ramai mereka menyiapkan berkas dan kemudian mengirimkannya ke panitia seleksi di Medan.  Berselang 1 minggu setelah batas waktu pengiriman berkas, panitia menetapkan calon-calon peserta yang lolos ke tahap selanjutnya, yaitu test akademik, wawancara, dan kesehatan. Togi termasuk 15 orang calon yang diundang dari kecamatan Siborongborong. Mereka semua mengikuti test di Medan, tepatnya di kantor PT Multijaya, agen penyalur tenaga kerja kontrak ke Jepang.

Sebenarnya Togi bukanlah orang paling pandai di antara 15 orang utusan Siborongborong yang mengikuti seleksi. Prestasi di kelas saja, dia hanya masuk 5 besar. Masih di bawah Anton, teman sepermainannya sejak sekolah dasar. Namun entah kenapa, hasil seleksi berkata lain. Dari semua rombongan, hanya dia yang dinyatakan lulus semua rangkaian test. Dia dinyatakan lolos sebagai calon yang akan bekerja di salah satu perusahaan yang ada di kota Shizuoka, Jepang. Setelah hasil test resmi dia peroleh melalui surat, dia diminta untuk mengurus paspor secepatnya. Setelah itu,  dia harus cepat-cepat ke Jakarta. Tempatnya di pusat pelatihan tenaga kerja depnaker, untuk mengikuti program persiapan sebelum berangkat.

Sebelum berangkat, sudah banyak rencana yang dia buat selama berada di Jepang. Khususnya rencana terhadap uang yang akan dia dapatkan selama bekerja. Ketika memperoleh selentingan dari staf agen penyalur tenaga kerja bahwa mereka bisa memperoleh 80rb yen setiap bulannya, dia sudah langsung membuat alokasi calon pendapatannya itu. 15rb akan dia kirimkan rutin tiap bulan kepada ibunya, 40rb dia tabung untuk modal di kemudian hari, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau sekiranya dia punya peluang lembur seperti yang dijelaskan oleh staf depnaker itu, setengah dari hasil lembur dialokasikan untuk tambahan tabungan, sementara setengah lagi untuk menambah biaya kebutuhan hidup di Jepang. Itulah angan-angannya.

Selama 5 bulan, semua rencana Togi berjalan mulus. Dia rutin mengirimkan uang sejumlah 15rb yen ke ibunya. Dia ingin membantu ibunya membiayai sekolah adik-adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Sejak ayahnya meninggal karena sakit paru-paru sekitar 4 tahun yang lalu, hanya ibunya lah yang berjuang untuk membiayai hidup dan sekolah Jogi serta 2 adiknya. Kondisi ini juga yang membuat tekad yang kuat di hati Jogi untuk membantu ibunya suatu hari kelak. Kalau dia sudah bekerja.

Uang yang 40ribu, yang dia khususkan untuk tabungan, disimpanya di rekening khusus. Seminggu setelah tiba di Jepang, dia langsung membuat dua rekening. Satu khusus untuk gaji dan kebutuhan sehari-hari, satunya lagi untuk tabungan. Tekad kuat untuk membuka usaha merupakan pemicu semangatnya untuk menabung. Sejak duduk dibangku kelas 2 SMK, Togi sudah punya angan-angan untuk membuka usaha pertanian dan peternakan.

Inspirasi pertama dia peroleh setelah  mengunjungi balai peternakan Sinur, balai peternakan yang dikelola oleh pemerintah. Dia kagum dengan pengelolaan peternakan disana. Bersih, rapi dan produksinya relatif besar. Selain itu, Togi juga sangat mengagumi sosok seorang Bob Sadino. Pengusaha yang berhasil dalam bidang agrobisnis. Sosok yang dinamis,yang bisa membangkitkan gairah orang-orang untuk menggeluti pertanian dan peternakan. Itu jugalah yang selalu penyemangat bagi Togi untuk menjaga dan mencapai impiannya. Yang menjadi penyemangat baginya untuk menabung hampir setengah pendapatannya setiap bulan. Dia ingin punya lahan luas, yang akan ditanami jeruk dan kopi. Dia membutuhkan modal awal untuk beternak babi dan ayam kampung. “Aku ingin punya ternak babi sebanyak 1000ekor, dan ayam kmpung sebanyak 5000ekor”, katanya suatu saat ketika wali kelasnya bertanya tentang cita-citanya.

Selain untuk ibunya, apabila diminta, kadang-kadang dia juga harus mengirimkan uang kepada keluarga yang tinggal di kampung. Dia pernah mengirim uang ketika laenya, anak tulangnya yang mengalami kecelakaan dan harus masuk rumah sakit. Dia ikut memberi dana pada saat pesta tambak keluarga sekitar 3 bulan yang lalu. Mungkin orang di kampung, khususnya keluarga sudah menganggap Togi sukses besar. Mempunyai gaji besar. Sehingga kalau ada kebutuhan uang di keluarga, sering ada ungkapan di antara anggota keluarga, “Mintalah dulu dikirim si Togi yen dari sana, gajinya kan besar”. Padahal, sebenarnya bisa dikatakan kalau Togi sudah memaksakan diri untuk menyisihkan uang yang akan dikirim untuk keluarga yang lain. Dia harus menghemat kebutuhannya sehari-hari. Dan kalau yang diminta relatif besar, Togi terpaksa mengurangi tabungan bulanannya.

Air mata Togi semakin deras bercucuran. Sambil menutup mata, dia berteriak dengan kencang ketika teringat peristiwa tragis 4 hari yang lalu. Peristiwa memilukan yang membuyarkan semua rencananya. Menghambat cita-citanya. Menghentikan niat baiknya untuk berbagi dengan ibunya.

Dalam hatinya selalu berkecamuk pertanyaan senada, “mengapa”. Mengapa dia harus menerima tawaran manajer bengkel untuk kerja lembur hari Minggu yang lalu. Padahal, kalau dia memilih untuk mengikuti ajakan sahabatnya, Doni, untuk kebaktian di gereja Tokyo tentu cerita akan lain. Mengapa dia menyodorkan diri untuk membersihkan plafon bengkel itu. Mengapa tidak memilih untuk merapikan perkakas di halaman bengkel. Mengapa gempa harus datang di hari Minggu kelabu itu? Gempa yang membuat pijakan yang dia gunakan goyang. Yang membuatnya terjatuh dari ketinggian 15 meter. Kalaupun jatuh, tapi mengapa pula lukanya separah itu. Yang membuatnya harus cacat seumur hidup, harus berteman dengan kursi roda.

Banyak pertanyaan bernada “mengapa” di hatinya. Tapi, tak satupun jawaban yang muncul. Yang pasti, dia harus kembali ke Siborongborong minggu yang akan datang. Yang pasti impiannya buyar, cita-citanya lenyap. Dan satu hal yang paling menyakitkan hatinya, dia tak bisa lagi membantu ibunya. Inilah yang paling ditangiskannya.

*cerita di atas merupakan cerita fiksi

<tulisan saat Indonesia kalah dengan Malaysia di piala AFF 2010>

Orang-orang yang menggandrungi sepak bola atau yang mengikuti perjuangan timnas sepakbola Indonesia pada kejuaraan AFF 2010 kemungkinan besar sangat kecewa dengan hasil yang diperoleh oleh timnas kemarin malam. Saya sendiri merasakan kekecewaan itu. Malah, sampai-sampai mendapat ancaman karena tidak bisa mengontrol kekecewaan. Pertama-tama, saya berteriak keras ketika terjadi gol pertama. Teriakan yang tidak terkontrol ini membangunkan istri. Saat bola merobek gawang Markus untuk kedua kalinya, teriakan saya yang lebih keras sambil memukul meja akhirnya membangunkan istri dan anak. Dan pada gol yang ketiga, saya mengumpat, langsung mematikan siaran pertandingan pada star tv online, sambil memukul-mukul meja. Di sinilah ancaman itu datang. Istri akhirnya memberikan ultimatum, kalau saya masih melakukan tindakan yang sama maka untuk ke depan tidak akan diijinkan lagi menyaksikan pertandingan timnas. Kalaupun mau menonton timnas maka tak bisa lagi dilakukan di dalam rumah.

Mengenai pertandingan tadi malam, saya melihat permainan Indonesia mulai terganggu sejak terjadinya gol pertama. Gol yang terjadi akibat kesalahan pemain belakang itu telah membuat konsentrasi tim buyar. Seolah-olah tak tahu berbuat apa di lapangan. Konsentrasi yang buyar membuat pemain-pemain Malaysia semakin mudah mengolah si kulit bundar di wilayah pertahanan timnas. Dan akhirnya, gempuran demi gempuran di pertahanan yang rapuh menambah pundi gol Malaysia menjadi tiga.

Padahal, sebelum terjadinya gol pertama, sebenarnya timnas sudah menunjukkan peningkatan di awal babak kedua. Setelah banyak mendapat serangan di babak pertama, di awal babak kedua timnas langsung menunjukkan perubahan. Kerja sama tim yang baik sudah berhasil menciptakan beberapa peluang. Hanya sayang, sekali lagi, kesalahan yang berbuah satu gol untuk tim lawan telah memadamkan semangat membara di awal pertandingan. Tim kita susah bangkit. Pergantian pemain tidak mampu mengangkat semangat tim dan akhirnya timnas kita mengalami kekalahan yang sangat memilukan.

Kalau saya perhatikan di media online dan media jejaring sosial, banyak orang yang memberikan tanggapan terhadap kekalahan timnas ini. Banyak yang bersedih, banyak yang kecewa, namun banyak juga yang tetap berpikiran optimis. Ada yang menyalahkan laser, ada yang menyalahkan tindakan PSSI, khususnya Nurdin Halid, yang beberapa kali membawa anggota timnas ke acara-acara yang tak berhubungan dengan persiapan timnas, ada yang menyalahkan para politikus yang ikut-ikutan jual muka, dan ada juga yang menyalahkan euforia media yang lebay. Media yang tak proporsional dan berlebihan.

Saya sih, untuk beberapa hal sepakat dengan pandangan banyak orang itu. Laser memang mengganggu, bisa mengurangi konsentrasi pemain. Nurdin Halid memang lebay, cari muka, dan tak tahu kebutuhan tim. Para politikus itu juga lebay. Sebelumnya tak pernah berkomentar tentang bola, tetapi setelah timnas diangkat sampai langit ke tujuh, mereka ikut-ikutan mau jual muka dan ingin ikutan terangkat sampai langit kelima. Dan yang terakhir, sebagian media kita sangat-sangat lebay dan tak proporsional. Mereka ikut andil membuat euforia yang berlebihan ini. Siaran mereka yang mengagung-agungkan kemenangan timnas di babak-babak awal dan semifinal sampai-sampai tidak menyediakan ruang untuk kata “kalah” yang kemungkinan akan dialami oleh timnas. Dalam berbagai kesempatan, siaran mereka itu sering menekankan bahwa timnas hebat, timnas jago dan harus menang. Harus juara. Jarang mengangkat isu kalau arena AFF ini adalah suatu kompetisi saja, dimana ada yang menang dan ada yang kalah. Ada yang juara dan ada yang runner up.

Namun, walaupun hal yang disebutkan di atas sangat mengganggu, tak bisa juga kita bersembunyi di balik itu semua. Tak bisa dijadikan kambing hitam. Kalau saat ini kita kalah ya memang harus mengaku kalah. Kita harus mengaku bahwa mental kita masih kurang baik, konsentrasi kita masih cepat buyar. Itu saja. Dan kalau mau ditambah untuk membesarkan hati, kita bisa berkata kalau timnas kita masih belum bernasib mujur. Coba saja tendangan Bustomi tidak melebar, coba saja Gonzales tidak terperangkap off side saat menceploskan bola di awal babak kedua, tentu semua akan beda.

AFF hanyalah sebuah turnamen sepak bola, sama dengan piala dunia, piala eropa, piala asia, dan piala champion. Ada yang kalah dan ada yang menang. Yang jago belum tentu menang dan yang kurang jago belum tentu kalah. Ada yang harus kecewa dan ada yang akan bersorak-sorai.

Dalam hal kekecewaan ini, baik juga kalau kita menyimak umpasa Batak berikut: “Hotang binebebebe, hotang pinulos-pulos. Unang hita mandele, ai godang do tudos-tudos”. (Dalam satu hal yang memilukan janganlah terlalu bersedih karena banyak contoh yang bisa kita lihat). Kita bisa melihat kesedihan Belanda saat EURO Cup 2000. Mereka bertindak sebagai tuan rumah, sangat diunggulkan, mereka dapat dua pinalti di waktu normal, namun akhirnya gagal melenggang ke final karena dikalahkan Italia dalam drama adu pinalti. Kesedihan Belanda juga terjadi pada EURO 2008. Di babak awal, mereka tampil dengan sangat meyakinkan. Menghantam Italia (juara dunia) 3-0, menghantam Perancis 4-1, dan menjinakkan Romania 2-0. Namun, di babak perempat final, tanpa diduga-duga, mereka dibuat babak belur oleh tim asuhan Guus Hiddink, Rusia dengan skor 1-3. Demikian juga dengan Argentina di Piala Dunia 2010. Dengan materi pemain-pemain berbakat, khususnya Messi yang top markotop di Barcelona, mereka sangat diunggulkan meraih gelar juara. Setelah berhasil melangkah dengan yakin di babak awal dan perdelapan final, akhirnya mereka dipecundangi Jerman di perempat final. Semua pendukung Argentina di dunia ini, termasuk saya, mengalami kekecewaan melihat kenyataan pahit itu.

Untuk timnas Garuda, sama dengan rekan-rekan yang masih menyimpan optimisme, saya juga ingin menyampaikan bahwa dunia belum berakhir akibat kekalahan tadi malam. Pertandingan di Bukit Jalil bukanlah akhir dari perjuangan timnas Garuda. AFF 2010 bukanlah impian terakhir. Selain pertandingan lusa, masih banyak pertandingan-pertandingan lain yang harus dihadapi oleh tim Garuda. Masih ada sea games, piala asia, pra olimpiade, pra piala dunia, dll. Sekali lagi, pertandingan lusa bukanlah pertandingan terakhir bagimu.

Karena itu tetaplah semangat, jangan ragu dan bimbang. Asah mental dan tingkatkan konsentrasi. Piala AFF memang penting, tetapi piala AFF bukanlah segala-galanya. Kami ingin melihat pertandingan-pertandingan yang menarik lagi dari timnas garuda. Kami juga ingin melihat semangat timnas Garuda di piala AFF dua tahun mendatang, persiapan piala Asia, dan bahkan persiapan piala dunia. Majulah tim garuda, pertandingan belum berakhir…

Oh iya, karena emosi yang berlebihan, tadi malam saya sudah sempat berjanji di dalam hati untuk tidak menyaksikan perjuangan timnas Garuda pada tanggal 29 Desember mendatang. Namun, entah kenapa, tak sampai berselang 2 jam janji dalam hati itu sudah saya tarik. Hati kecil berkata lain. Saya akan tetap menonton timnas Garuda, memberi semangat dari jauh, apapun hasilnya…Majulah tim garuda, pertandingan belum berakhir…

Setelah kemarin kami pergi ke taman kota (taman chiba) melihat bunga sakura, kegiatan melihat bunga sakura dilanjutkan lagi hari ini. Tepatnya mulai sore tadi, setelah pulang dari mengikuti kebaktian dan perayaan paskah di gereja berbahasa Indonesia. Kalau kemarin kami melihat sakura di taman kota yang bisa ditempuh dengan naik sepeda, hari ini kami menikmati sakura di sebuah taman yang sangat besar di daerah Tokyo. Taman ini bernama Ueno, waktu tempuh dari rumah berkisar 1 jam dengan menggunakan kereta.

Pada dasarnya, sejauh pengamatan saya taman chiba berbeda jauh dibanding taman ueno. Taman ueno relatif jauh lebih luas, bunga sakuranya jauh lebih banyak, fasilitas yang tersedia jauh lebih lengkap, pengunjungnya yang datang jauh lebih ramai dan penataan taman yang jauh lebih rapi. Namun, ada satu pemandangan yang saya lihat hampir sama pada kedua taman ini. Pemandangan yang hampir sama itu adalah rasa antusiasme yang sangat tinggi dari orang-orang Jepun terhadap bunga sakura yang mereka lihat. Sebagian besar dari mereka, yang biasanya duduk berkelompok, menggelar tikar/terpal di bawah pohon sakura. Sambil menikmati keindahan bunga sakura, mereka menikmati bir/sake dan makanan. Selain duduk di bawah sakura, mereka juga menyempatkan diri untuk berjalan di sepanjang taman, melihat-lihat bunga sakura dari dekat dan mengambil foto dengan menggunakan kamera digital atau kamera handphone. Di sana sini terdengar kata “kireeiiii” (indah sekali…) dan
“sugoiiiiii” (mantap sekali…)

Entah kenapa, saya selalu bingung dan bertanya-tanya melihat fenomena sebagian orang Jepun ini. Mengapa mereka sangat antusias dengan kemunculan bunga sakura, padahal tahun-tahun sebelumnya toch sudah terbiasa. Sudah pernah mereka lihat. Kan bunga ini muncul setiap tahun, setiap permulaan musim semi. Apa sebenarnya kekuatan bunga sakura ini. Toch baunya tak seharum bunga mawar atau daya tahannya tak setahan bunga tulip. Kalau masalah keindahan, menurut saya masih banyak bunga di Jepun yang lebih indah dibanding bunga sakura. Namun, sepanjang mata memandang, mereka telah berhasil “menyihir” masyarakat Jepun. Bahkan sebagian masyarakat di luar Jepun. Orang rela berdesak-desakan di taman hanya untuk duduk di bawah pohon sakura. Siaran televisi, selama beberapa hari belakangan ini ramai membahas di daerah mana saja bunga sakura mulai mekar. Di daerah mana bunga ini mulai layu.

Namun, terlepas dari kebingungan melihat fenomena orang Jepun dengan bunga yang satu ini, saya berpikiran bahwa bunga sakura ini memang suatu bunga yang unik. Seolah-olah, bunga ini mempunyai jimat, mempunyai “magic” yang dapat membius banyak orang. Bunga ini seolah-olah mempunyai energi potensial yang sangat besar, yang dapat mengalirkan energinya kepada orang-orang yang melihatnya. Padahal, dilihat dari segi usia, alih-alih membuat senang justru menurut saya bunga ini lebih cenderung membuat orang menjadi sedih. Mengapa tidak, usia munculnya bunga sakura ini relatif sangat singkat. Bunga sakura hanya mempunyai waktu sekitar seminggu dari proses berkembang sampai layu. Setelah itu, kita perlu menunggu setahun penuh untuk menunggu proses yang sama terulang kembali.

Tapi, justru dalam waktu yang singkat itu pula bunga ini telah berhasil “menyihir” ratusan juta orang. Telah berhasil memberi pengharapan kepada orang banyak untuk melihat keindahan, dan juga memberi suka cita bagi yang melihatnya. Sakura bisa mempertemukan orang-orang yang lama tak bertemu, menaungi keluarga yang jarang bertegur sapa, dan menjadi saksi kehangatan dan sukacita keluarga atau suatu perkumpulan. Mereka telah memfasilitasi senyum, tawa, kehangatan dan rasa ingin tahu orang banyak. Padahal, usianya sangat singkat. Hanya satu minggu.

Sambil berjalan di bawah pohon sakura, saya jadi teringat dengan ibadah minggu dan perayaan paskah yang kami ikuti pagi harinya. Walaupun konsentrasi lebih banyak tercurah untuk menjaga Hizkia agar jangan sampai mengganggu orang yang sedang berdoa atau bernyanyi, saya masih menangkap sedikit-sedikit pesan yang disampaikan oleh majelis yang memimpin ibadah dan pendeta yang menyampaikan firman. Pada kesempatan itu, mereka bercerita tentang seseorang yang telah berkarya sekitar 2000 tahun yang lalu. Meskipun hanya dalam waktu singkat, hanya sekitar 3 tahun, Dia telah berbuat banyak bagi orang-orang di sekitarnya. Karya dan perkataan-perkataan-Nya telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dari dulu sampai saat ini. Dan terlebih lagi, melalui peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya sekitar 2000 tahun yang lalu telah memberikan kebahagiaan, sukacita dan pengharapan kepada banyak orang. Padahal, waktu berkaryanya sangat singkat. Sangat singkat untuk ukuran bekerja dan berkarya saat ini.

Ach ha, saya pikir sakura hampir mirip dengan seseorang yang dibicarakan tadi pagi. Tak peduli dengan usia yang dimiliki, interval waktu untuk berkarya, tetapi keberadaan dan karyanya telah menjadi sumber kebahagiaan, sukacita dan pengharapan bagi banyak orang. Indah sekali…

akhir kata, dari bawah pohon sakura kami menyampaikan selamat hari raya paskah (paska) buat kita semua…

Tanaka-san

Perjumpaan saya dengan Tanaka-san berawal dari acara piknik keluarga ke taman kota, taman
yang terletak di sebelah selatan kota Chiba. Saat itu, tepatnya pada pertengahan musim gugur tahun yang lalu, kami pergi ke taman kota untuk menikmati pemandangan daun maple yang sudah mulai berganti warna. Orang Jepang menyebut tradisi melihat daun maple ini dengan sebutan “momiji”. Kalau di bulan April mereka punya acara “hanami”, yaitu bersama-sama duduk di taman untuk melihat pohon sakura yang sedang berbunga, maka pada acara “momiji” ini biasanya mereka akan duduk berkelompok sambil menikmati pemandangan daun maple yang sudah mulai berubah warna. Perubahan warna daun dari yang sebelumnya warna hijau berubah menjadi warna merah kekuning-kuningan.

Saya masih ingat bagaimana banyaknya orang di taman pada waktu itu. Kebanyakan mereka, dengan menggelar tikar, duduk berkelompok. Para orang tua asyik bercengkrama sambil menikmati makanan dan minuman, sementara para anak asyik bermain di lapangan. Karena ingin menikmati suasana yang lebih tenang, jauh dari hirukpikuk suara anak yang sedang bermain di lapangan, kami memutuskan untuk mengambil tempat di sebelah utara taman. Posisi ini memang agak jauh dari kerindangan pohon maple, tapi keindahan daun yang berwarna merah kekuning-kuningan itu masih bisa dinikmati dari jauh. Saat itu saya berkata kepada istri “Tak apa-apa kita jauh disini, yang penting tenang dan ada tempat duduk. Toch, dari sini kita masih bisa melihat keindahan daun-daun itu”.

Kami sampai disana sudah sekitar pukul 12 siang. Itu pertanda jam makan siang sudah tiba. Tanpa menunggu aba-aba, seperti biasanya, saya langsung mengambil makanan yang sudah dipersiapkan istri dari rumah. Sementara saya makan, istri memberi makan anak kami yang saat itu masih duduk di kereta dorongnya. Saya menikmati spageti dan salad, sementara dia menikmati sup jagung campur hati ayam. Berselang beberapa waktu, anak kami ini mulai berulah. Alih-alih membuka mulutnya untuk menerima sodoran sendok berisi makanan, dia malah senyum-senyum sambil memukul-mukul kereta dorongnya. Kami berdua bingung dan bertanya-tanya. Biasanya dia akan bersikap seperti itu kalau ada yang bermain-main dengan dia. Misalnya permainan tutup buka mata atau permainan “sembunyi muncul”. Suatu permainan yang sangat menggairahkan bagi dia kalau ada orang yang pura-pura sembunyi kemudian tiba-tiba muncul dan berteriak. Saya menduga pasti ada orang di belakang kami.

Saat saya menoleh ke belakang, ternyata dugaan saya benar. Saya melihat seorang bapak yang sudah tua yang ternyata dari tadi sudah bermain-main dengan anak kami. Gerakan-gerakannyalah yang membuatnya begitu semangat, senyum-senyum sambil memukul-mukul kereta dorongnya. Saya langsung berdiri dan membalas senyumnya. Sambil sedikit membungkuk, saya berkata “konichiwa” yang berarti “selamat siang”. “Konichiwa”, balasnya sambil sedikit membungkuk.

Biasanya, kalau sudah berbalas salam, acaranya sudah selesai. Yang tadinya jalan akan kembali jalan melanjutkan perjalanannya, sementara yang duduk akan kembali duduk. Tapi, bapak yang satu ini berbeda. Bukannya kembali jalan, dia malah datang mendekati kami. Dalam hati saya bertanya-tanya “Mengapa ini, apa yang salah? Apakah kami berbuat
salah selama di taman ini? Apakah di kursi ini dilarang duduk?”. Belum sampai dugaan-dugaan lain muncul, dia sudah mendekat kepada kami. Sangat dekat, hingga berjarak hanya sekitar 1 meter. Dia tiba-tiba menyodorkan tangan kanannya sambil berkata “Selamat siang”. Saya kaget, saya tak menduga dia bisa berbahasa Indonesia.
Sambil menjabat tangannya, saya membalas sambil bertanya “Selamat siang. Bisa berbahasa Indonesia yaa”.
“Ya, saya bisa sedikit-sedikit. Saya mendatangi kalian karena tadi saya dengar kalian berbahasa Indonesia”, jawabnya dengan lancar. Ternyata, dari tadi dia sudah mendengar pembicaraan saya dengan istri. Dari situ dia tahu kalau kami orang Indonesia. “Pantas saja dia datang mendekati kami”, pikir saya dalam hati.

Karena tahu kalau dia bisa berbahasa Indonesia, akhirnya saya ajak dia untuk duduk bersama-sama menikmati keindahan daun maple dari kejauhan. Di luar dugaan, dia mengiyakan ajakan saya. Dia duduk di sebelah kanan, saya di tengah sementara istri duduk di sebelah kiri sambil melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Memberi makan anak kami. Akhirnya saya menyudahi makan siang yang sempat terhenti sebelumnya. Saya mengambil 2 cangkir kertas, mengisi teh pahit dari botol minuman yang kami beli sebelumnya. Satu saya berikan kepada dia sambil berkata “Silahkan, cuma ini yang ada”. Dia menerima sambil mengangguk dan berkata “Terima kasih..Arigatou gozaimasu”.

Banyak hal yang kami bicarakan pada siang itu. Dari situ aku tahu kalau namanya adalah Hideo Tanaka, tinggal di sebelah barat taman kota. Rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meter dari taman kota. Dia sudah berumur 76 tahun. Dalam masalah umur ini, saya sempat tak percaya. Melihat tubuhnya yang masih energik, sebelumnya saya berpikir kalau dia masih berumur sekitar 60 tahun. Dia juga menyampaikan kalau dia  pernah tinggal lama di Indonesia.
Hampir 15 tahun. Dia dulu pernah bekerja di satu perusahaan Jepang yang beroperasi di daerah Kalimantan dan Sumatera. “Pantas saja kemampuan bahasa Indonesianya lancar, ternyata dia sudah lama tinggal di Indonesia” kata saya dalam hati. Tak hanya membahas pekerjaan, dia juga bercerita tentang keluarganya. Saat ini dia tinggal bersama istrinya, sementara 2 anaknya sudah menikah. Yang paling besar laki-laki, menikah dengan orang Inggris dan tinggal
di London, sementara yang satu lagi perempuan, menikah dengan orang Jepang tapi mereka menetap di Ohio, Amerika Serikat.

Setelah sekitar satu jam kami bercakap-cakap, akhirnya dia permisi untuk pulang. “Deni-san, saya permisi pulang dulu. Saya sudah terlalu lama keluar dari rumah. Nanti dicari-cari istri saya sampai ke kantor polisi”, katanya sambil bercanda. Mungkin dia masih ingat dengan lelucon-lelucon di Indonesia. “Baik Tanaka-san, terima kasih banyak. Mungkin kapan-kapan kita bisa bertemu lagi” kata saya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Dia menyambut tangan saya sambil berkata “Deni-san, pertemuan ini sangat menyenangkan. Setelah saya balik dari Indonesia, baru kali ini saya bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan orang Indonesia. Saya jadi ingat dengan masa-masa dulu”. Dia melanjutkan “Deni-san, bisakah saya tahu nomor teleponmu? Mungkin nanti kita bisa bertemu seperti ini lagi”. Saya tersenyum dan mengangguk. Buru-buru dia mengambil handphone dari saku celananya. Dia menekan nomor-nomor di HP itu sesuai dengan nomor-nomor yang saya sampaikan.

Setelah selesai memasukkan nomor HP saya, sambil tersenyum kepada anak saya, dia mengambil dompet dari saku belakangnya. Saya dan istri bingung dengan tindakannya. Bingung sambil bertanya-tanya dalam hati, “Apa tujuan Tanaka-san mengambil dompetnya”. Tak berapa lama berselang, dia mengambil 2 lembar uang 10.000 yen dan memasukkannya ke kantong anak saya. Kami terkejut. Kami tak pernah membayangkan kejadian ini. Belum sempat saya mempertanyakan pemberiannya itu, dia sudah bergegas pergi sambil berkata “Tidak apa-apa Deni-san, itu pemberian tulus. Itu hadiah untuk anakmu. Jangan kamu tolak”. Untuk beberapa saat, kami diam seribu bahasa. Tak bisa berkata apa-apa. Akhirnya, istri saya berkata “Yah, mau bagaimana lagi. Kalau dia memang tulus, ya diterima saja”. Setelah itu dia mengambil uang dari saku anak kami. “Lagian anak ini sepertinya senang dengan hadiahnya. Lihat tuch, dia senyum-senyum dari tadi” tambahnya sambil bercanda.

Pada suatu Sabtu pagi, berselang beberapa hari dari acara piknik di taman kota, HP saya berdering. Saat saya angkat, ternyata Tanaka-san yang berbicara di ujung sana. “Deni-san, ohayou gozaimasu. Apa kabar?”. “Baik-baik, Tanaka-san bagaimana?” jawab saya sambil bertanya balik. “Oh, saya dan istri baik-baik”, jawabnya. Dia melanjutkan “Deni-san, kami ada rencana untuk jalan-jalan ke Odaiba. Kami berencana mengajak Deni-san dan keluarga untuk ikut bersama kami. Bagaimana kira-kira, apakah bersedia?”. Belum sempat saya jawab, dia sudah melanjutkan pembicaraannya “Maksud kami hanya ingin berkenalan lebih jauh. Saat saya memberi tahu kepada istri mengenai Deni-san dan keluarga, dia sangat antusias ingin bertemu”. “Baik Tanaka-san, saya tanya dulu kepada istri”, kata saya. Setelah saya memperoleh tanggapan dari istri, saya bergegas menjawab Tanaka-san yang dari tadi setia menunggu di ujung telepon “Baik Tanaka-san, kami bersedia”. “Ok, mohon diberitahu alamat Deni-san, biar kami jemput ke rumah”. Setelah saya beri alamat, dia melanjutkan pembicaraannya “Ok, Deni-san. Kami di sana setengah jam lagi. Tunggu kami”.

Perjalanan kami ke Odaiba sangat menyenangkan. Maklum, ini kunjungan kami yang pertama ke sana. Di sana, kami bisa melihat gedung-gedung bertingkat yang tinggi menjulang dari tepi pantai odaiba. Di sana juga ada jembatan gantung seperti Golden Gate yang ada di San Francisco, dan patung besar seperti patung Liberty di New York.
Selain menikmati pemandangan, kami juga diajak untuk makan di restoran mewah di  Hotel Nikko. Hotel ini tak seberapa jauh dari pantai Odaiba. Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke sebuah toko mainan anak-anak. Anak kami dibelikan beberapa mainan, salah satunya mainan yang menyerupai laptop. Entah ini yang disebut jawaban doa. Dari dulu kami bercita-cita untuk membelikannya mainan laptop-laptopan agar dia tak selalu memukul-mukul laptop dan membanting mouse saya.

Hubungan kami dengan keluarga Tanaka-san semakin hari semakin dekat saja. Kami merasa dia sangat perhatian kepada kami. Dia telah memberi banyak kepada kami. Kadang-kadang, dia akan singgah ke rumah untuk mengantarkan makanan yang dimasak oleh istrinya. Tak hanya mengantar makanan yang dimasak oleh istrinya, dia juga kadang-kadang mengantar kue atau buah yang dibelinya di sebuah super market dekat tempat tinggal kami. Saya tahu
asalnya dari plastik pembungkusnya. Dalam beberapa kesempatan di hari minggu sore, dia mengajak kami untuk datang ke rumahnya. Tentu saja kami tak datang sendiri, tapi dia jemput dengan menggunakan mobil Honda Civic nya. Kami diajak untuk menikmati teh dan donat di taman belakang rumahnya Biasanya, saat mau pulang, istrinya sudah menyiapkan oleh-oleh untuk kami bawa pulang. Sambil memberi bungkusan itu, istrinya akan berkata “Deni-san, ini ada sedikit oleh-oleh. Silahkan dibawa pulang”.

Sebenarnya saya dan istri sudah mulai merasa kurang enak dengan kondisi ini. Kami merasa kurang enak, selalu diberi,
tanpa pernah membalas pemberian mereka. Suatu ketika saya pernah berkata kepada istri “Saya merasa tak enak dengan kondisi ini. Aku pikir baik juga kalau kita sedikit menghindar dari Tanaka-san dan keluarga. Kita tak boleh memberatkan mereka lagi”. Sejak pembicaraan itu, kami sepakati untuk mulai menghindar dari Tanaka-san. Kalau dia menelepon, saya sering tidak mengangkat teleponnya. Pesan pendeknya juga sering tidak saya balas. Tapi anehnya, dia tak pernah mempertanyakan kejadian itu. Kalau kami bertemu, dia tak pernah bertanya mengapa teleponnya tidak saya angkat atau pesan pendeknya tidak saya jawab.

Pada awal tahun 2010 ini, Tanaka-san dan keluarga menyelenggarakan pesta tahun baru. Selain pesta tahun baru, acara ini juga ditujukan sebagai ungkapan rasa suka cita karena semua anaknya dan cucu-cucunya datang ke Jepang untuk berlibur. Tentu saja kami diundang pada pesta itu. Dia minta saya untuk membantu mengurusi penataan tempat sementara istri ikut membantu menyiapkan makanan. Pestanya berlangsung meriah. Setelah makan, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni. Sebagian anggota keluarga yang berpakaian kimono menampilkan tarian tradisional Jepang. Di tengah-tengah acara, Tanaka-san mendatangi saya. Dia mengajak saya untuk keluar rumah sebentar. Di taman belakang, sambil menyalakan rokoknya, dia membuka pembicaraan “Deni-san, dari tadi saya lihat wajahnya murung sekali. Tidak pernah ikut tertawa. Tersenyum pun seperti dipaksakan. Ada persoalan apa?”. Saya langsung menjawab “Ach..tidak ada apa-apa, Tanaka-san. Tidak ada masalah”.
Tanaka-san tiba-tiba memegang pundak saya dan berkata “Deni-san, saya sudah lama bergaul dengan banyak orang. Sudah banyak pengalaman saya membaca bahasa tubuh mereka. Aku tahu kamu ada masalah, jangan ragu-ragu, kasih tahu saja apa yang membuatmu sedih seperti saat ini?”.

Entah kenapa, saya tiba-tiba punya keberanian untuk berbagi dengan Tanaka-san. Tiba-tiba, saya tak merasa malu
untuk mencurahkan perasaan saya. Dengan sedikit tertunduk, dan suara pelan saya berkata kepadanya “Tanaka-san, saya baru dapat email dari kampus. Emailnya berisi tentang uang kuliah saya semester ini yang masih belum dibayar”. Setelah menarik nafas, saya melanjutkan perkataan dengan “Kampus memberi batas waktu sampai akhir bulan, padahal uang kiriman dari Indonesia kemungkinan baru bisa sampai pada pertengahan bulan Februari”. Sambil menghembuskan asap rokoknya, Tanaka-san berkata “Oh, itu yang kamu pikirkan. Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin kampus bisa memberi waktu kepada kamu. Sampaikan saja persoalanmu kepada bagian keuangan di kampus”, tutupnya sambil menepuk-nepuk pundak saya. Malam itu, pembicaraan tentang permasalahan yang saya hadapi kami
akhiri sampai disitu.

Pada hari Sabtu sore, 2 hari setelah acara pesta di rumah Tanaka-san, bel di rumah kami berbunyi. Saya tinggalkan “chatting” dengan seorang kawan di ym, dan buru-buru membuka pintu. Saya kaget luar biasa karena tamu yang datang ternyata Tanaka-san beserta istri. “Tak biasanya kedatangan mereka seperti ini. Biasanya mereka menelepon dulu” pikir saya dalam hati. Belum sempat saya mempersilahkan mereka duduk di karpet, Tanaka-san langsung berkata, “Maafkan kalau kedatangan kami mengganggu. Saya datang bermaksud untuk membantu Deni-san dan keluarga”. Saat saya ingin bertanya maksud pembicaraannya, dia sudah mendahului saya dengan berkata “Saya ikut sedih dengan persoalan uang kuliah yang belum dibayarkan. Saya sudah membuka website universitas dan sudah melihat jumlah uang kuliah yang harus dibayarkan”. Dengan cepat, sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat, dia lanjutkan perkataannya ”Untuk itu, disini saya membawa uang 300.000 yen. Silahkan dipergunakan uang ini untuk biaya kuliah Deni-san”. Setelah melihat istrinya, dia melanjutkan “Kalau sekiranya uang dari Indonesia sudah datang, mohon uang yang kami berikan ini jangan dikembalikan. Anggaplah ini sebagai hadiah kami untuk Deni-san sekeluarga”. Setelah hening beberapa saat, saya menjawab “Tanaka-san, terima kasih atas perhatiannya. Terima kasih atas perhatiannya kepada keluarga kami. Selama ini kami sudah menerima banyak hal dari kemurahan hati Tanaka-san
dan keluarga”. Setelah menghela nafas, saya lanjutkan dengan “Terima kasih juga atas tawaran dan niat baik yang saat ini Tanaka-san sampaikan. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, saya mohon agar saya diijinkan untuk tidak menerima pemberian ini”.

Beberapa saat suasana hening. Saya tak tahu ingin berkata apa lagi. Sedih rasanya membuat Tanaka-san sekeluarga kecewa dengan penolakan saya. Tapi, saya juga berpikir bahwa kurang elok juga kalau saya menerima pemberian mereka itu. Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba Tanaka-san maju selangkah dan mendekat kepada saya. Tiba-tiba dia berlutut sambil merebahkan badannya, mukanya hampir menyentuh lantai. Dia berkata dengan suara yang lugas “Deni-san, maafkan saya. Mohon pemberian yang tulus ini diterima. Saya dan perusahaan saya sudah berutang banyak kepada Indonesia. Banyak kayu kami tebang dari Indonesia dan kemudian kami kirimkan ke Jepang. Hutan di Kalimantan dan Sumatera menjadi gundul, sementara perusahaan kami yang tak pernah menanam kayu menjadi kaya raya. Ini termasuk kesalahan perusahaan kami. Ini termasuk kesalahan saya sebagai pengambil keputusan di perusahaan kami”. Setelah diam sebentar, dia melanjutkan lagi “Selama ini saya ingin membayar utang saya kepada Indonesia. Kepada masyarakat Indonesia. Tapi, sampai saat ini belum bisa saya wujudkan. Saya begitu gembira ketika
berkenalan dengan Deni-san. Saya ingin mencicil utang saya kepada Indonesia dengan berbuat sebaik mungkin dengan
orang-orang Indonesia yang saya kenal. Termasuk Deni-san dan keluarga. Untuk itu, mohon diterima pemberian
tulus ini”. Untuk beberapa saat, mukanya masih berjarak sekitar 3 sentimeter dari lantai.

Saat dia menengadah, kami saling berpandangan. Saya diam, tak bisa berkata apa-apa…

*cerita di atas merupakan cerita fiksi

Gambaru

Sependek pengetahuan saya tentang bahasa Jepang, sampai saat ini, menurut saya kata yang paling unik di bahasa Jepang adalah kata “gambaru”. Kalau biasanya satu kata bahasa Inggris bisa mempunyai beberapa padanan kata di bahasa Jepang, namun pada kata “gambaru” berlaku sebaliknya. Sebagai contoh: kata “break” di bahasa Inggris bisa dipadankan dengan “kowareru” (mis: kursi rusak, komputer rusak, jam rusak, dll), “wareru” (mis: gelas), “oreru” (mis: pohon, ranting pohon). Selain kata “break”, ada juga kata “wear” yang di bahasa Jepang dipadankan dengan “kiru” (memakai baju), “haku” (memakai sepatu), “kaburu” (memakai topi). Sementara itu, lain dari kata-kata yang sudah disebutkan sebelumnya, kata “gambaru” tidak dipadankan dengan satu kata dalam bahasa Inggris.

Menurut kamus, dalam bahasa Inggris kata “gambaru” dapat diartikan dengan “to persist, hang on, or do one’s best”. Dalam penggunaan sehari-hari, kata “gambaru” bisa diubah menjadi “gambare” (bentuk imperatif, menyuruh agar orang tetap semangat), “gambarimasho” (ajakan agar tetap semangat, biasanya yang mengajak juga ikut bersama dalam tim), “gambatte kudasai” (menyuruh orang agar tetap berusaha, tetap semangat; tapi disampaikan dengan lebih hormat), “gambarimasu” (permintaan agar tetap semangat. Sebagai informasi, “gambare” terkesan lebih langsung ke obyek lawan bicara dibanding kata “gambarimasu”).

Selain keunikan dari segi padanan kata dengan bahasa Inggris, ternyata kata “gambaru” ini mempunyai keunikan yang lain. Berdasar atas pengamatan sehari-hari, obrolan dengan kawan serta beberapa sumber, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata “gambaru” ini berpengaruh sangat signifikan di dalam segala aspek kehidupan masyarakat Jepang termasuk di dalamnya segala pencapaian mereka di segala bidang, khususnya pada aspek pendidikan mereka. Malah di dalam satu literatur, ada tulisan yang menyatakan bahwa “Gambaru” sudah menjadi salah satu teori budaya Jepang dalam proses belajar mengajar. Jepang telah menekankan kata “gambaru” (dalam bahasa Inggris, disebut dengan persistance) untuk memberi kejelasan dan mengatur masalah pendidikan.

Sebenarnya apa yang menarik dari kata “gambaru” ini? Jawabannya mungkin bisa kita lihat dari kebiasaan sistem pembelajaran mereka di sekolah, khususnya pada sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama. Kalau diamati di Indonesia, khususnya di daerah Tapanuli, sebagian besar sekolah masih lebih menekankan sisi kemampuan dari siswanya. Kemampuan di sini meliputi: IQ, pengetahuan, talenta. Sementara di sekolah-sekolah Jepang, para pendidiknya lebih memperhatikan kata “gambaru” tadi. Artinya, mereka lebih memperhatikan dan menekankan kegigihan siswa dalam belajar, semangat pantang menyerah dan anjuran agar berusaha untuk melakukan yang terbaik dari yang mereka mampu lakukan.

Mungkin, fenomena “gambaru” ini juga yang membuat sehingga sebagian besar guru-guru di Jepang mempunyai cara yang berbeda ketika memberikan penilaian kualitatif kepada siswanya. Kalau di Indonesia, kita mungkin sering mendengar kata: “Kamu pintar”, “Aduh, kamu kok bodoh yaa”, “Wah, jangan menjadi siswa yang malas”, “Bagus, kamu termasuk murid yang rajin”, dll. Di sekolah-sekolah dasar di Jepang, dalam hal menanggapi prestasi siswa-siswanya, guru-gurunya lebih sering menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan “gambaru”. Misalnya, “ Gambare ne” (lebih gigih lagi berusaha yaa), “ Mou sukoshi gambaru hou ga ii to omoimasu” (Saya pikir, sedikit lagi kegigihan akan lebih baik).

Sehubungan dengan fenomena “gambaru” ini, di taman kanak-kanak dan sekolah-sekolah dasar, pihak sekolah lebih menekankan kerja sama dan pencapaian grup dibanding pencapaian pribadi. Atas dasar itu pula, guru-guru banyak mengajarkan tentang identitas grup masing-masing siswa. Dengan pembentukan grup ini, guru-guru menekankan kepada siswa agar lebih aktif bekerja sama dengan sesama anggota grup, saling membantu, dan juga saling mengingatkan. Di sini, guru seolah-olah “mendelegasikan” tugas kepada grup agar masing-masing siswa dapat menjalankan program belajar mengajar dengan lebih efektif dan efisien. Masing-masing anggota grup harus lebih gigih belajar. Kalau ada yang kurang gigih, sebelum guru turun tangan, maka anggota grup lain diharapkan bisa mengingatkan.

Selain perhatian terhadap keberadaan grup, pendidikan dasar mereka tidak mengenal istilah gagal (tinggal kelas) atau masuk kelas akselerasi. Seorang kawan yang mempunyai anak di sekolah dasar bercerita, kalau ada seorang anak yang lambat dalam belajar maka sekolah melalui guru kelasnya akan turun tangan. Guru akan memberikan perhatian lebih kepada si anak, memberi waktu khusus sebagai tambahan waktu untuk mengulang materi pelajaran, memberi latihan lebih. Dalam proses ini, dengan filosofi “gambaru”, si anak akan diyakinkan agar tetap semangat, gigih berusaha, pantang menyerah dan berusaha yang terbaik. Dengan usaha yang keras, kegigihan dan semangat diharapkan si anak dapat mengejar ketinggalannya, dan akhinya bisa sama-sama naik tingkat dengan teman-teman sekelasnya.

Kalau ditanya secara pribadi, menurut saya filosofi “gambaru” ini baik juga kalau bisa diterapkan dalam sistem pembelajaran sekolah kita, khususnya di tingkat sekolah dasar. Tentunya akan lebih mudah membuat perubahan kalau sejak dini sudah ada kesadaran tentang perlunya keberadaan kawan,  perlunya kerja sama antar kawan, perlunya tekun dan gigih dalam belajar/berusaha, dan jangan cepat menyerah. Dengan ketekunan, kegigihan, semangat berbuat yg terbaik dan semangat pantang menyerah maka kemungkinan besar persoalan besar akan bisa diselesaikan, pekerjaan besar akan bisa dikerjakan dan pertanyaan besar akan bisa dijawab.

Saya jadi ingat dengan pameran wireless communication sekitar 1 bulan yang lalu, Tokyo Motor Show bulan yang lalu dan juga pameran robot yang diadakan di Tokyo 3 hari yang lalu. Banyak ide, inovasi dan produk baru yang muncul. Melalui beberapa temuan itu, banyak persoalan bisa diselesaikan (misalnya tentang mobil hybrid paling ideal, sistem sensor network pada gempa, dll). Banyak pula pertanyaan yang bisa dijawab. Saya yakin, tentunya semua capaian itu tak lepas dari usaha, ketekunan, kegigihan, usaha berbuat yang terbaik, dan semangat pantang menyerah. Dan dengan demikian, berarti pencapaian-pencapaian itu tak lepas pula dari kata: “gambaru” yang banyak dituliskan di atas.

haik, gambarimasho…

Kerisauan si Lastun

Genap sudah sepuluh bulan si Lastun berada di Japun ini. Sepuluh bulan boleh dikatakan masih seumur jagung, namun demikian, banyak hal yang sudah diamatinya mengenai kehidupan di japun. Beberapa hal di antaranya yang menarik perhatiannya yaitu: pembangunan yang sangat pesat, fasilitas yang mumpuni, kebersihan, disiplin dan budaya masyarakat japun. Dan itu semua membuatnya sering mengangguk-angguk, atau juga geleng-geleng. Tentunya untuk menunjukkan tanda kekaguman.

Dari hasil mengamati ini, ada dua hal yang sering ditunjukkan si Lastun. Yang pertama dia sering ngomel mengenai kondisi di kampungnya kalau dibandingkan dengan kondisi yang sedang diamatinya, dan yang kedua dia langsung jadi pemimpi. Kalau sekiranya dia sedang berada di stasiun kereta api, dia akan langsung bilang “Yah, di Indonesia mana ada fasilitas seperti ini lengkap dan bagusnya. Semua sangat nyaman”. Kalau sekiranya dia berada di kereta api, dalam hati dia berkata “Ohh, nyamannya. di Indonesia pasti kereta seperti ini udah penuh sesak. Keringat menyatu. Penumpang gelantungan, bahkan sampai merayap di atas”. Kalau dia ke kantor polisi, dalam hati juga dia berkata “Oh, mantap kali lah polisi-polisi ini. Benar-benar melayani, benar-benar tahu tugasnya. Beda kali sama polisi di kampung kami. Sudah jelas pekerjaannya, tapi selalu juga minta uang rokok”

Tak hanya ngomel, sebenarnya Lastun juga sering menjadi pemimpi. Mimpinya sering seperti mimpinya Faisal Basri (Kompas, 28 Sept 2009). Yah, andai saja Indonesia suatu saat bisa menjadi negara maju, yah kalau bisa menyamai kemajuan negara Japun. Daya saingnya tinggi, pendidikannya berkualitas, korupsinya minim, fasilitasnya lengkap dan pendapatan perkapitanya meningkat tajam. Dalam lingkup kecil, di juga sering mengutarakan mimpinya kepadaku. Pernah dia bilang: “Kalau sekiranya ada kesempatan aku jadi walikota, aku akan seperti walikota Chiba ini. Ke kantor naik kereta api saja, anggaran pembangunan dipergunakan se efektif mungkin, pelayanan kepada masyarakat menjadi tugas utama”. Dia juga pernah bilang “Kalau sekiranya aku pulang nanti, dan punya kesempatan, akan kubuat lah lab seperti lab nya sensei-sensei japun itu. Penelitiannya fokus, dan fasilitasnya lengkap”. Dan yang terakhir dia malah pernah bilang “Yah, kalau aku pulang nanti, minimal etos kerja
dan kejujuran orang-orang Japun ini bisa kutiru dan kubawa pulang”

Tapi, ditengah-tengah impian itu, sebenarnya si Lastun bingung dan risau juga. Bagaimana tidak risau, saat dia mengamati kondisi yang ada di negaranya, sebenarnya keberadaan dirinya belumlah ada apa-apanya dibanding para pemegang keputusan saat ini. Minimal dari segi waktu dan pengalaman. Tapi, toch para pengambil keputusan tetap juga gagal dan tak bisa berbuat optimal.

Sebut saja para dosen tertentu dan para pimpinan perguruan tinggi. Mereka berpendidikan tinggi, sudah lama hidup di luar negeri, sudah lama melihat dan mengalami budaya luar negeri, tapi toch susah juga membawa perguruan tinggi Indoensia bisa bersaing dengan perguruan tinggi di luar negeri. Tak jauh beda, lembaga-lembaga penelitian juga demikian. Sampai saat ini masih hanya sebagai pengikut. Padahal, SDM mereka sudah banyak yang bergelar doktor.

Demikian juga dengan pejabat-pejabat di birokrasi, khususnya yang sudah duduk di eselon 1, 2 dan 3. Tentunya mereka sudah punya banyak pengalaman dengan kehidupan luar negeri, khususnya dengan negara-negara maju. Mungkin mereka sudah pernah kuliah, pelatihan, kursus singkat atau bahkan studi banding ke negara-negara maju itu. Tapi, mengapa pula masih susah membuat arahan pembangunan seperti negara yang pernah dikunjungi. Mengapa pula masih susah menerapkan transparansi dan akuntabilitas dalam segenap aktivitas di pemerintahan. Apakah mereka sama seperti Lastun, awalnya penuh semangat, seperti api yang membara. Tapi setelah masuk, punya kesempatan dan akhirnya terlena juga?

Tak jauh beda, para anggota parlemen juga demikian. Tentunya di antara mereka sudah banyak yang berpendidikan tinggi, punya pengalaman segunung dengan kehidupan dan budaya luar negeri. Sebagian lagi punya pengalaman study banding ke negara-negara maju. Tapi, kok sepertinya masih susah untuk bergerak optimal? Suap masih menggejala, padahal gajinya sudah segunung. Jarang hadir ikut rapat, padahal fasilitas sudah lengkap. Membuat UU yang tak terlalu penting sangat cepat, padahal membuat UU yang penting lamanya bukan main.

Sepertinya, kerisauannya si Lastun juga bertambah setelah membaca koran Kompas hari ini. Bagaimana tidak risau, kok baru sekarang Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa untuk tahun depan, KA akan menjadi angkutan utama untuk mudik lebaran. Pernyataan ini muncul setelah memperhatikan korban jiwa selama mudik lebaran tahun 2009 sebanyak 728 orang, rata-rata 52 orang tewas setiap hari. Lebih banyak dari korban banjir besar di Filipina. Padahal tahun-tahun sebelumnya juga sudah terjadi korban yang sangat banyak. Kemana selama ini, kok tak ada evaluasi? Padahal, setahu si Lastun, JK itu sudah sering berkunjung ke Jepang. Malah dia pernah lihat foto JK di Jepang saat mengunjungi pabrik Toyota sekitar tahun 70-an. Artinya, JK sudah lama melihat fasilitas infrastruktur yang ada di Jepang, sudah lama menikmati nyamannya moda transportasi kereta api. Melihat rel kereta api yang masuk sampai ke kampung-kampung. Tapi, kok baru sekarang dia berkomentar demikian? Kenapa
tidak sejak duduk jadi menteri saja. Atau, pada tahun 2004, saat dia jadi wapres. Tentunya, kalau dia punya keinginan, selama lima tahun sudah bisa dibangun rel ganda yang menghubungkan jakarta dengan surabaya. Tahun depan tak perlu lagi pusing dengan banyaknya pengguna sepeda motor.

Ach, si Lastun makin risau saja. Dia bingung, dan bertanya-tanya: kok tak bisa para pengambil keputusan itu memanfaatkan pengalaman mereka selama ini. Dimana kira-kira link yang terputus?

Dalam sebuah kesempatan, aku pernah menghardiknya dan berkata: “Jangan terlalu risau kau Bos. Jangan pula ikut bingung. Makanya, jangan terlalu banyak mikir dan juga jangan terlalu banyak ngomong. Mereka yang sudah punya pengalaman segunung saja belum bisa optimal, apalagi kau yang masih bau kencur di tengah rimba belantara ini ” :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.