Genap sudah sepuluh bulan si Lastun berada di Japun ini. Sepuluh bulan boleh dikatakan masih seumur jagung, namun demikian, banyak hal yang sudah diamatinya mengenai kehidupan di japun. Beberapa hal di antaranya yang menarik perhatiannya yaitu: pembangunan yang sangat pesat, fasilitas yang mumpuni, kebersihan, disiplin dan budaya masyarakat japun. Dan itu semua membuatnya sering mengangguk-angguk, atau juga geleng-geleng. Tentunya untuk menunjukkan tanda kekaguman.
Dari hasil mengamati ini, ada dua hal yang sering ditunjukkan si Lastun. Yang pertama dia sering ngomel mengenai kondisi di kampungnya kalau dibandingkan dengan kondisi yang sedang diamatinya, dan yang kedua dia langsung jadi pemimpi. Kalau sekiranya dia sedang berada di stasiun kereta api, dia akan langsung bilang “Yah, di Indonesia mana ada fasilitas seperti ini lengkap dan bagusnya. Semua sangat nyaman”. Kalau sekiranya dia berada di kereta api, dalam hati dia berkata “Ohh, nyamannya. di Indonesia pasti kereta seperti ini udah penuh sesak. Keringat menyatu. Penumpang gelantungan, bahkan sampai merayap di atas”. Kalau dia ke kantor polisi, dalam hati juga dia berkata “Oh, mantap kali lah polisi-polisi ini. Benar-benar melayani, benar-benar tahu tugasnya. Beda kali sama polisi di kampung kami. Sudah jelas pekerjaannya, tapi selalu juga minta uang rokok”
Tak hanya ngomel, sebenarnya Lastun juga sering menjadi pemimpi. Mimpinya sering seperti mimpinya Faisal Basri (Kompas, 28 Sept 2009). Yah, andai saja Indonesia suatu saat bisa menjadi negara maju, yah kalau bisa menyamai kemajuan negara Japun. Daya saingnya tinggi, pendidikannya berkualitas, korupsinya minim, fasilitasnya lengkap dan pendapatan perkapitanya meningkat tajam. Dalam lingkup kecil, di juga sering mengutarakan mimpinya kepadaku. Pernah dia bilang: “Kalau sekiranya ada kesempatan aku jadi walikota, aku akan seperti walikota Chiba ini. Ke kantor naik kereta api saja, anggaran pembangunan dipergunakan se efektif mungkin, pelayanan kepada masyarakat menjadi tugas utama”. Dia juga pernah bilang “Kalau sekiranya aku pulang nanti, dan punya kesempatan, akan kubuat lah lab seperti lab nya sensei-sensei japun itu. Penelitiannya fokus, dan fasilitasnya lengkap”. Dan yang terakhir dia malah pernah bilang “Yah, kalau aku pulang nanti, minimal etos kerja
dan kejujuran orang-orang Japun ini bisa kutiru dan kubawa pulang”
Tapi, ditengah-tengah impian itu, sebenarnya si Lastun bingung dan risau juga. Bagaimana tidak risau, saat dia mengamati kondisi yang ada di negaranya, sebenarnya keberadaan dirinya belumlah ada apa-apanya dibanding para pemegang keputusan saat ini. Minimal dari segi waktu dan pengalaman. Tapi, toch para pengambil keputusan tetap juga gagal dan tak bisa berbuat optimal.
Sebut saja para dosen tertentu dan para pimpinan perguruan tinggi. Mereka berpendidikan tinggi, sudah lama hidup di luar negeri, sudah lama melihat dan mengalami budaya luar negeri, tapi toch susah juga membawa perguruan tinggi Indoensia bisa bersaing dengan perguruan tinggi di luar negeri. Tak jauh beda, lembaga-lembaga penelitian juga demikian. Sampai saat ini masih hanya sebagai pengikut. Padahal, SDM mereka sudah banyak yang bergelar doktor.
Demikian juga dengan pejabat-pejabat di birokrasi, khususnya yang sudah duduk di eselon 1, 2 dan 3. Tentunya mereka sudah punya banyak pengalaman dengan kehidupan luar negeri, khususnya dengan negara-negara maju. Mungkin mereka sudah pernah kuliah, pelatihan, kursus singkat atau bahkan studi banding ke negara-negara maju itu. Tapi, mengapa pula masih susah membuat arahan pembangunan seperti negara yang pernah dikunjungi. Mengapa pula masih susah menerapkan transparansi dan akuntabilitas dalam segenap aktivitas di pemerintahan. Apakah mereka sama seperti Lastun, awalnya penuh semangat, seperti api yang membara. Tapi setelah masuk, punya kesempatan dan akhirnya terlena juga?
Tak jauh beda, para anggota parlemen juga demikian. Tentunya di antara mereka sudah banyak yang berpendidikan tinggi, punya pengalaman segunung dengan kehidupan dan budaya luar negeri. Sebagian lagi punya pengalaman study banding ke negara-negara maju. Tapi, kok sepertinya masih susah untuk bergerak optimal? Suap masih menggejala, padahal gajinya sudah segunung. Jarang hadir ikut rapat, padahal fasilitas sudah lengkap. Membuat UU yang tak terlalu penting sangat cepat, padahal membuat UU yang penting lamanya bukan main.
Sepertinya, kerisauannya si Lastun juga bertambah setelah membaca koran Kompas hari ini. Bagaimana tidak risau, kok baru sekarang Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa untuk tahun depan, KA akan menjadi angkutan utama untuk mudik lebaran. Pernyataan ini muncul setelah memperhatikan korban jiwa selama mudik lebaran tahun 2009 sebanyak 728 orang, rata-rata 52 orang tewas setiap hari. Lebih banyak dari korban banjir besar di Filipina. Padahal tahun-tahun sebelumnya juga sudah terjadi korban yang sangat banyak. Kemana selama ini, kok tak ada evaluasi? Padahal, setahu si Lastun, JK itu sudah sering berkunjung ke Jepang. Malah dia pernah lihat foto JK di Jepang saat mengunjungi pabrik Toyota sekitar tahun 70-an. Artinya, JK sudah lama melihat fasilitas infrastruktur yang ada di Jepang, sudah lama menikmati nyamannya moda transportasi kereta api. Melihat rel kereta api yang masuk sampai ke kampung-kampung. Tapi, kok baru sekarang dia berkomentar demikian? Kenapa
tidak sejak duduk jadi menteri saja. Atau, pada tahun 2004, saat dia jadi wapres. Tentunya, kalau dia punya keinginan, selama lima tahun sudah bisa dibangun rel ganda yang menghubungkan jakarta dengan surabaya. Tahun depan tak perlu lagi pusing dengan banyaknya pengguna sepeda motor.
Ach, si Lastun makin risau saja. Dia bingung, dan bertanya-tanya: kok tak bisa para pengambil keputusan itu memanfaatkan pengalaman mereka selama ini. Dimana kira-kira link yang terputus?
Dalam sebuah kesempatan, aku pernah menghardiknya dan berkata: “Jangan terlalu risau kau Bos. Jangan pula ikut bingung. Makanya, jangan terlalu banyak mikir dan juga jangan terlalu banyak ngomong. Mereka yang sudah punya pengalaman segunung saja belum bisa optimal, apalagi kau yang masih bau kencur di tengah rimba belantara ini ”