Sependek pengetahuan saya tentang bahasa Jepang, sampai saat ini, menurut saya kata yang paling unik di bahasa Jepang adalah kata “gambaru”. Kalau biasanya satu kata bahasa Inggris bisa mempunyai beberapa padanan kata di bahasa Jepang, namun pada kata “gambaru” berlaku sebaliknya. Sebagai contoh: kata “break” di bahasa Inggris bisa dipadankan dengan “kowareru” (mis: kursi rusak, komputer rusak, jam rusak, dll), “wareru” (mis: gelas), “oreru” (mis: pohon, ranting pohon). Selain kata “break”, ada juga kata “wear” yang di bahasa Jepang dipadankan dengan “kiru” (memakai baju), “haku” (memakai sepatu), “kaburu” (memakai topi). Sementara itu, lain dari kata-kata yang sudah disebutkan sebelumnya, kata “gambaru” tidak dipadankan dengan satu kata dalam bahasa Inggris.
Menurut kamus, dalam bahasa Inggris kata “gambaru” dapat diartikan dengan “to persist, hang on, or do one’s best”. Dalam penggunaan sehari-hari, kata “gambaru” bisa diubah menjadi “gambare” (bentuk imperatif, menyuruh agar orang tetap semangat), “gambarimasho” (ajakan agar tetap semangat, biasanya yang mengajak juga ikut bersama dalam tim), “gambatte kudasai” (menyuruh orang agar tetap berusaha, tetap semangat; tapi disampaikan dengan lebih hormat), “gambarimasu” (permintaan agar tetap semangat. Sebagai informasi, “gambare” terkesan lebih langsung ke obyek lawan bicara dibanding kata “gambarimasu”).
Selain keunikan dari segi padanan kata dengan bahasa Inggris, ternyata kata “gambaru” ini mempunyai keunikan yang lain. Berdasar atas pengamatan sehari-hari, obrolan dengan kawan serta beberapa sumber, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata “gambaru” ini berpengaruh sangat signifikan di dalam segala aspek kehidupan masyarakat Jepang termasuk di dalamnya segala pencapaian mereka di segala bidang, khususnya pada aspek pendidikan mereka. Malah di dalam satu literatur, ada tulisan yang menyatakan bahwa “Gambaru” sudah menjadi salah satu teori budaya Jepang dalam proses belajar mengajar. Jepang telah menekankan kata “gambaru” (dalam bahasa Inggris, disebut dengan persistance) untuk memberi kejelasan dan mengatur masalah pendidikan.
Sebenarnya apa yang menarik dari kata “gambaru” ini? Jawabannya mungkin bisa kita lihat dari kebiasaan sistem pembelajaran mereka di sekolah, khususnya pada sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama. Kalau diamati di Indonesia, khususnya di daerah Tapanuli, sebagian besar sekolah masih lebih menekankan sisi kemampuan dari siswanya. Kemampuan di sini meliputi: IQ, pengetahuan, talenta. Sementara di sekolah-sekolah Jepang, para pendidiknya lebih memperhatikan kata “gambaru” tadi. Artinya, mereka lebih memperhatikan dan menekankan kegigihan siswa dalam belajar, semangat pantang menyerah dan anjuran agar berusaha untuk melakukan yang terbaik dari yang mereka mampu lakukan.
Mungkin, fenomena “gambaru” ini juga yang membuat sehingga sebagian besar guru-guru di Jepang mempunyai cara yang berbeda ketika memberikan penilaian kualitatif kepada siswanya. Kalau di Indonesia, kita mungkin sering mendengar kata: “Kamu pintar”, “Aduh, kamu kok bodoh yaa”, “Wah, jangan menjadi siswa yang malas”, “Bagus, kamu termasuk murid yang rajin”, dll. Di sekolah-sekolah dasar di Jepang, dalam hal menanggapi prestasi siswa-siswanya, guru-gurunya lebih sering menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan “gambaru”. Misalnya, “ Gambare ne” (lebih gigih lagi berusaha yaa), “ Mou sukoshi gambaru hou ga ii to omoimasu” (Saya pikir, sedikit lagi kegigihan akan lebih baik).
Sehubungan dengan fenomena “gambaru” ini, di taman kanak-kanak dan sekolah-sekolah dasar, pihak sekolah lebih menekankan kerja sama dan pencapaian grup dibanding pencapaian pribadi. Atas dasar itu pula, guru-guru banyak mengajarkan tentang identitas grup masing-masing siswa. Dengan pembentukan grup ini, guru-guru menekankan kepada siswa agar lebih aktif bekerja sama dengan sesama anggota grup, saling membantu, dan juga saling mengingatkan. Di sini, guru seolah-olah “mendelegasikan” tugas kepada grup agar masing-masing siswa dapat menjalankan program belajar mengajar dengan lebih efektif dan efisien. Masing-masing anggota grup harus lebih gigih belajar. Kalau ada yang kurang gigih, sebelum guru turun tangan, maka anggota grup lain diharapkan bisa mengingatkan.
Selain perhatian terhadap keberadaan grup, pendidikan dasar mereka tidak mengenal istilah gagal (tinggal kelas) atau masuk kelas akselerasi. Seorang kawan yang mempunyai anak di sekolah dasar bercerita, kalau ada seorang anak yang lambat dalam belajar maka sekolah melalui guru kelasnya akan turun tangan. Guru akan memberikan perhatian lebih kepada si anak, memberi waktu khusus sebagai tambahan waktu untuk mengulang materi pelajaran, memberi latihan lebih. Dalam proses ini, dengan filosofi “gambaru”, si anak akan diyakinkan agar tetap semangat, gigih berusaha, pantang menyerah dan berusaha yang terbaik. Dengan usaha yang keras, kegigihan dan semangat diharapkan si anak dapat mengejar ketinggalannya, dan akhinya bisa sama-sama naik tingkat dengan teman-teman sekelasnya.
Kalau ditanya secara pribadi, menurut saya filosofi “gambaru” ini baik juga kalau bisa diterapkan dalam sistem pembelajaran sekolah kita, khususnya di tingkat sekolah dasar. Tentunya akan lebih mudah membuat perubahan kalau sejak dini sudah ada kesadaran tentang perlunya keberadaan kawan, perlunya kerja sama antar kawan, perlunya tekun dan gigih dalam belajar/berusaha, dan jangan cepat menyerah. Dengan ketekunan, kegigihan, semangat berbuat yg terbaik dan semangat pantang menyerah maka kemungkinan besar persoalan besar akan bisa diselesaikan, pekerjaan besar akan bisa dikerjakan dan pertanyaan besar akan bisa dijawab.
Saya jadi ingat dengan pameran wireless communication sekitar 1 bulan yang lalu, Tokyo Motor Show bulan yang lalu dan juga pameran robot yang diadakan di Tokyo 3 hari yang lalu. Banyak ide, inovasi dan produk baru yang muncul. Melalui beberapa temuan itu, banyak persoalan bisa diselesaikan (misalnya tentang mobil hybrid paling ideal, sistem sensor network pada gempa, dll). Banyak pula pertanyaan yang bisa dijawab. Saya yakin, tentunya semua capaian itu tak lepas dari usaha, ketekunan, kegigihan, usaha berbuat yang terbaik, dan semangat pantang menyerah. Dan dengan demikian, berarti pencapaian-pencapaian itu tak lepas pula dari kata: “gambaru” yang banyak dituliskan di atas.
haik, gambarimasho…