Perjumpaan saya dengan Tanaka-san berawal dari acara piknik keluarga ke taman kota, taman
yang terletak di sebelah selatan kota Chiba. Saat itu, tepatnya pada pertengahan musim gugur tahun yang lalu, kami pergi ke taman kota untuk menikmati pemandangan daun maple yang sudah mulai berganti warna. Orang Jepang menyebut tradisi melihat daun maple ini dengan sebutan “momiji”. Kalau di bulan April mereka punya acara “hanami”, yaitu bersama-sama duduk di taman untuk melihat pohon sakura yang sedang berbunga, maka pada acara “momiji” ini biasanya mereka akan duduk berkelompok sambil menikmati pemandangan daun maple yang sudah mulai berubah warna. Perubahan warna daun dari yang sebelumnya warna hijau berubah menjadi warna merah kekuning-kuningan.
Saya masih ingat bagaimana banyaknya orang di taman pada waktu itu. Kebanyakan mereka, dengan menggelar tikar, duduk berkelompok. Para orang tua asyik bercengkrama sambil menikmati makanan dan minuman, sementara para anak asyik bermain di lapangan. Karena ingin menikmati suasana yang lebih tenang, jauh dari hirukpikuk suara anak yang sedang bermain di lapangan, kami memutuskan untuk mengambil tempat di sebelah utara taman. Posisi ini memang agak jauh dari kerindangan pohon maple, tapi keindahan daun yang berwarna merah kekuning-kuningan itu masih bisa dinikmati dari jauh. Saat itu saya berkata kepada istri “Tak apa-apa kita jauh disini, yang penting tenang dan ada tempat duduk. Toch, dari sini kita masih bisa melihat keindahan daun-daun itu”.
Kami sampai disana sudah sekitar pukul 12 siang. Itu pertanda jam makan siang sudah tiba. Tanpa menunggu aba-aba, seperti biasanya, saya langsung mengambil makanan yang sudah dipersiapkan istri dari rumah. Sementara saya makan, istri memberi makan anak kami yang saat itu masih duduk di kereta dorongnya. Saya menikmati spageti dan salad, sementara dia menikmati sup jagung campur hati ayam. Berselang beberapa waktu, anak kami ini mulai berulah. Alih-alih membuka mulutnya untuk menerima sodoran sendok berisi makanan, dia malah senyum-senyum sambil memukul-mukul kereta dorongnya. Kami berdua bingung dan bertanya-tanya. Biasanya dia akan bersikap seperti itu kalau ada yang bermain-main dengan dia. Misalnya permainan tutup buka mata atau permainan “sembunyi muncul”. Suatu permainan yang sangat menggairahkan bagi dia kalau ada orang yang pura-pura sembunyi kemudian tiba-tiba muncul dan berteriak. Saya menduga pasti ada orang di belakang kami.
Saat saya menoleh ke belakang, ternyata dugaan saya benar. Saya melihat seorang bapak yang sudah tua yang ternyata dari tadi sudah bermain-main dengan anak kami. Gerakan-gerakannyalah yang membuatnya begitu semangat, senyum-senyum sambil memukul-mukul kereta dorongnya. Saya langsung berdiri dan membalas senyumnya. Sambil sedikit membungkuk, saya berkata “konichiwa” yang berarti “selamat siang”. “Konichiwa”, balasnya sambil sedikit membungkuk.
Biasanya, kalau sudah berbalas salam, acaranya sudah selesai. Yang tadinya jalan akan kembali jalan melanjutkan perjalanannya, sementara yang duduk akan kembali duduk. Tapi, bapak yang satu ini berbeda. Bukannya kembali jalan, dia malah datang mendekati kami. Dalam hati saya bertanya-tanya “Mengapa ini, apa yang salah? Apakah kami berbuat
salah selama di taman ini? Apakah di kursi ini dilarang duduk?”. Belum sampai dugaan-dugaan lain muncul, dia sudah mendekat kepada kami. Sangat dekat, hingga berjarak hanya sekitar 1 meter. Dia tiba-tiba menyodorkan tangan kanannya sambil berkata “Selamat siang”. Saya kaget, saya tak menduga dia bisa berbahasa Indonesia.
Sambil menjabat tangannya, saya membalas sambil bertanya “Selamat siang. Bisa berbahasa Indonesia yaa”.
“Ya, saya bisa sedikit-sedikit. Saya mendatangi kalian karena tadi saya dengar kalian berbahasa Indonesia”, jawabnya dengan lancar. Ternyata, dari tadi dia sudah mendengar pembicaraan saya dengan istri. Dari situ dia tahu kalau kami orang Indonesia. “Pantas saja dia datang mendekati kami”, pikir saya dalam hati.
Karena tahu kalau dia bisa berbahasa Indonesia, akhirnya saya ajak dia untuk duduk bersama-sama menikmati keindahan daun maple dari kejauhan. Di luar dugaan, dia mengiyakan ajakan saya. Dia duduk di sebelah kanan, saya di tengah sementara istri duduk di sebelah kiri sambil melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Memberi makan anak kami. Akhirnya saya menyudahi makan siang yang sempat terhenti sebelumnya. Saya mengambil 2 cangkir kertas, mengisi teh pahit dari botol minuman yang kami beli sebelumnya. Satu saya berikan kepada dia sambil berkata “Silahkan, cuma ini yang ada”. Dia menerima sambil mengangguk dan berkata “Terima kasih..Arigatou gozaimasu”.
Banyak hal yang kami bicarakan pada siang itu. Dari situ aku tahu kalau namanya adalah Hideo Tanaka, tinggal di sebelah barat taman kota. Rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meter dari taman kota. Dia sudah berumur 76 tahun. Dalam masalah umur ini, saya sempat tak percaya. Melihat tubuhnya yang masih energik, sebelumnya saya berpikir kalau dia masih berumur sekitar 60 tahun. Dia juga menyampaikan kalau dia pernah tinggal lama di Indonesia.
Hampir 15 tahun. Dia dulu pernah bekerja di satu perusahaan Jepang yang beroperasi di daerah Kalimantan dan Sumatera. “Pantas saja kemampuan bahasa Indonesianya lancar, ternyata dia sudah lama tinggal di Indonesia” kata saya dalam hati. Tak hanya membahas pekerjaan, dia juga bercerita tentang keluarganya. Saat ini dia tinggal bersama istrinya, sementara 2 anaknya sudah menikah. Yang paling besar laki-laki, menikah dengan orang Inggris dan tinggal
di London, sementara yang satu lagi perempuan, menikah dengan orang Jepang tapi mereka menetap di Ohio, Amerika Serikat.
Setelah sekitar satu jam kami bercakap-cakap, akhirnya dia permisi untuk pulang. “Deni-san, saya permisi pulang dulu. Saya sudah terlalu lama keluar dari rumah. Nanti dicari-cari istri saya sampai ke kantor polisi”, katanya sambil bercanda. Mungkin dia masih ingat dengan lelucon-lelucon di Indonesia. “Baik Tanaka-san, terima kasih banyak. Mungkin kapan-kapan kita bisa bertemu lagi” kata saya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Dia menyambut tangan saya sambil berkata “Deni-san, pertemuan ini sangat menyenangkan. Setelah saya balik dari Indonesia, baru kali ini saya bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan orang Indonesia. Saya jadi ingat dengan masa-masa dulu”. Dia melanjutkan “Deni-san, bisakah saya tahu nomor teleponmu? Mungkin nanti kita bisa bertemu seperti ini lagi”. Saya tersenyum dan mengangguk. Buru-buru dia mengambil handphone dari saku celananya. Dia menekan nomor-nomor di HP itu sesuai dengan nomor-nomor yang saya sampaikan.
Setelah selesai memasukkan nomor HP saya, sambil tersenyum kepada anak saya, dia mengambil dompet dari saku belakangnya. Saya dan istri bingung dengan tindakannya. Bingung sambil bertanya-tanya dalam hati, “Apa tujuan Tanaka-san mengambil dompetnya”. Tak berapa lama berselang, dia mengambil 2 lembar uang 10.000 yen dan memasukkannya ke kantong anak saya. Kami terkejut. Kami tak pernah membayangkan kejadian ini. Belum sempat saya mempertanyakan pemberiannya itu, dia sudah bergegas pergi sambil berkata “Tidak apa-apa Deni-san, itu pemberian tulus. Itu hadiah untuk anakmu. Jangan kamu tolak”. Untuk beberapa saat, kami diam seribu bahasa. Tak bisa berkata apa-apa. Akhirnya, istri saya berkata “Yah, mau bagaimana lagi. Kalau dia memang tulus, ya diterima saja”. Setelah itu dia mengambil uang dari saku anak kami. “Lagian anak ini sepertinya senang dengan hadiahnya. Lihat tuch, dia senyum-senyum dari tadi” tambahnya sambil bercanda.
Pada suatu Sabtu pagi, berselang beberapa hari dari acara piknik di taman kota, HP saya berdering. Saat saya angkat, ternyata Tanaka-san yang berbicara di ujung sana. “Deni-san, ohayou gozaimasu. Apa kabar?”. “Baik-baik, Tanaka-san bagaimana?” jawab saya sambil bertanya balik. “Oh, saya dan istri baik-baik”, jawabnya. Dia melanjutkan “Deni-san, kami ada rencana untuk jalan-jalan ke Odaiba. Kami berencana mengajak Deni-san dan keluarga untuk ikut bersama kami. Bagaimana kira-kira, apakah bersedia?”. Belum sempat saya jawab, dia sudah melanjutkan pembicaraannya “Maksud kami hanya ingin berkenalan lebih jauh. Saat saya memberi tahu kepada istri mengenai Deni-san dan keluarga, dia sangat antusias ingin bertemu”. “Baik Tanaka-san, saya tanya dulu kepada istri”, kata saya. Setelah saya memperoleh tanggapan dari istri, saya bergegas menjawab Tanaka-san yang dari tadi setia menunggu di ujung telepon “Baik Tanaka-san, kami bersedia”. “Ok, mohon diberitahu alamat Deni-san, biar kami jemput ke rumah”. Setelah saya beri alamat, dia melanjutkan pembicaraannya “Ok, Deni-san. Kami di sana setengah jam lagi. Tunggu kami”.
Perjalanan kami ke Odaiba sangat menyenangkan. Maklum, ini kunjungan kami yang pertama ke sana. Di sana, kami bisa melihat gedung-gedung bertingkat yang tinggi menjulang dari tepi pantai odaiba. Di sana juga ada jembatan gantung seperti Golden Gate yang ada di San Francisco, dan patung besar seperti patung Liberty di New York.
Selain menikmati pemandangan, kami juga diajak untuk makan di restoran mewah di Hotel Nikko. Hotel ini tak seberapa jauh dari pantai Odaiba. Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke sebuah toko mainan anak-anak. Anak kami dibelikan beberapa mainan, salah satunya mainan yang menyerupai laptop. Entah ini yang disebut jawaban doa. Dari dulu kami bercita-cita untuk membelikannya mainan laptop-laptopan agar dia tak selalu memukul-mukul laptop dan membanting mouse saya.
Hubungan kami dengan keluarga Tanaka-san semakin hari semakin dekat saja. Kami merasa dia sangat perhatian kepada kami. Dia telah memberi banyak kepada kami. Kadang-kadang, dia akan singgah ke rumah untuk mengantarkan makanan yang dimasak oleh istrinya. Tak hanya mengantar makanan yang dimasak oleh istrinya, dia juga kadang-kadang mengantar kue atau buah yang dibelinya di sebuah super market dekat tempat tinggal kami. Saya tahu
asalnya dari plastik pembungkusnya. Dalam beberapa kesempatan di hari minggu sore, dia mengajak kami untuk datang ke rumahnya. Tentu saja kami tak datang sendiri, tapi dia jemput dengan menggunakan mobil Honda Civic nya. Kami diajak untuk menikmati teh dan donat di taman belakang rumahnya Biasanya, saat mau pulang, istrinya sudah menyiapkan oleh-oleh untuk kami bawa pulang. Sambil memberi bungkusan itu, istrinya akan berkata “Deni-san, ini ada sedikit oleh-oleh. Silahkan dibawa pulang”.
Sebenarnya saya dan istri sudah mulai merasa kurang enak dengan kondisi ini. Kami merasa kurang enak, selalu diberi,
tanpa pernah membalas pemberian mereka. Suatu ketika saya pernah berkata kepada istri “Saya merasa tak enak dengan kondisi ini. Aku pikir baik juga kalau kita sedikit menghindar dari Tanaka-san dan keluarga. Kita tak boleh memberatkan mereka lagi”. Sejak pembicaraan itu, kami sepakati untuk mulai menghindar dari Tanaka-san. Kalau dia menelepon, saya sering tidak mengangkat teleponnya. Pesan pendeknya juga sering tidak saya balas. Tapi anehnya, dia tak pernah mempertanyakan kejadian itu. Kalau kami bertemu, dia tak pernah bertanya mengapa teleponnya tidak saya angkat atau pesan pendeknya tidak saya jawab.
Pada awal tahun 2010 ini, Tanaka-san dan keluarga menyelenggarakan pesta tahun baru. Selain pesta tahun baru, acara ini juga ditujukan sebagai ungkapan rasa suka cita karena semua anaknya dan cucu-cucunya datang ke Jepang untuk berlibur. Tentu saja kami diundang pada pesta itu. Dia minta saya untuk membantu mengurusi penataan tempat sementara istri ikut membantu menyiapkan makanan. Pestanya berlangsung meriah. Setelah makan, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni. Sebagian anggota keluarga yang berpakaian kimono menampilkan tarian tradisional Jepang. Di tengah-tengah acara, Tanaka-san mendatangi saya. Dia mengajak saya untuk keluar rumah sebentar. Di taman belakang, sambil menyalakan rokoknya, dia membuka pembicaraan “Deni-san, dari tadi saya lihat wajahnya murung sekali. Tidak pernah ikut tertawa. Tersenyum pun seperti dipaksakan. Ada persoalan apa?”. Saya langsung menjawab “Ach..tidak ada apa-apa, Tanaka-san. Tidak ada masalah”.
Tanaka-san tiba-tiba memegang pundak saya dan berkata “Deni-san, saya sudah lama bergaul dengan banyak orang. Sudah banyak pengalaman saya membaca bahasa tubuh mereka. Aku tahu kamu ada masalah, jangan ragu-ragu, kasih tahu saja apa yang membuatmu sedih seperti saat ini?”.
Entah kenapa, saya tiba-tiba punya keberanian untuk berbagi dengan Tanaka-san. Tiba-tiba, saya tak merasa malu
untuk mencurahkan perasaan saya. Dengan sedikit tertunduk, dan suara pelan saya berkata kepadanya “Tanaka-san, saya baru dapat email dari kampus. Emailnya berisi tentang uang kuliah saya semester ini yang masih belum dibayar”. Setelah menarik nafas, saya melanjutkan perkataan dengan “Kampus memberi batas waktu sampai akhir bulan, padahal uang kiriman dari Indonesia kemungkinan baru bisa sampai pada pertengahan bulan Februari”. Sambil menghembuskan asap rokoknya, Tanaka-san berkata “Oh, itu yang kamu pikirkan. Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin kampus bisa memberi waktu kepada kamu. Sampaikan saja persoalanmu kepada bagian keuangan di kampus”, tutupnya sambil menepuk-nepuk pundak saya. Malam itu, pembicaraan tentang permasalahan yang saya hadapi kami
akhiri sampai disitu.
Pada hari Sabtu sore, 2 hari setelah acara pesta di rumah Tanaka-san, bel di rumah kami berbunyi. Saya tinggalkan “chatting” dengan seorang kawan di ym, dan buru-buru membuka pintu. Saya kaget luar biasa karena tamu yang datang ternyata Tanaka-san beserta istri. “Tak biasanya kedatangan mereka seperti ini. Biasanya mereka menelepon dulu” pikir saya dalam hati. Belum sempat saya mempersilahkan mereka duduk di karpet, Tanaka-san langsung berkata, “Maafkan kalau kedatangan kami mengganggu. Saya datang bermaksud untuk membantu Deni-san dan keluarga”. Saat saya ingin bertanya maksud pembicaraannya, dia sudah mendahului saya dengan berkata “Saya ikut sedih dengan persoalan uang kuliah yang belum dibayarkan. Saya sudah membuka website universitas dan sudah melihat jumlah uang kuliah yang harus dibayarkan”. Dengan cepat, sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat, dia lanjutkan perkataannya ”Untuk itu, disini saya membawa uang 300.000 yen. Silahkan dipergunakan uang ini untuk biaya kuliah Deni-san”. Setelah melihat istrinya, dia melanjutkan “Kalau sekiranya uang dari Indonesia sudah datang, mohon uang yang kami berikan ini jangan dikembalikan. Anggaplah ini sebagai hadiah kami untuk Deni-san sekeluarga”. Setelah hening beberapa saat, saya menjawab “Tanaka-san, terima kasih atas perhatiannya. Terima kasih atas perhatiannya kepada keluarga kami. Selama ini kami sudah menerima banyak hal dari kemurahan hati Tanaka-san
dan keluarga”. Setelah menghela nafas, saya lanjutkan dengan “Terima kasih juga atas tawaran dan niat baik yang saat ini Tanaka-san sampaikan. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, saya mohon agar saya diijinkan untuk tidak menerima pemberian ini”.
Beberapa saat suasana hening. Saya tak tahu ingin berkata apa lagi. Sedih rasanya membuat Tanaka-san sekeluarga kecewa dengan penolakan saya. Tapi, saya juga berpikir bahwa kurang elok juga kalau saya menerima pemberian mereka itu. Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba Tanaka-san maju selangkah dan mendekat kepada saya. Tiba-tiba dia berlutut sambil merebahkan badannya, mukanya hampir menyentuh lantai. Dia berkata dengan suara yang lugas “Deni-san, maafkan saya. Mohon pemberian yang tulus ini diterima. Saya dan perusahaan saya sudah berutang banyak kepada Indonesia. Banyak kayu kami tebang dari Indonesia dan kemudian kami kirimkan ke Jepang. Hutan di Kalimantan dan Sumatera menjadi gundul, sementara perusahaan kami yang tak pernah menanam kayu menjadi kaya raya. Ini termasuk kesalahan perusahaan kami. Ini termasuk kesalahan saya sebagai pengambil keputusan di perusahaan kami”. Setelah diam sebentar, dia melanjutkan lagi “Selama ini saya ingin membayar utang saya kepada Indonesia. Kepada masyarakat Indonesia. Tapi, sampai saat ini belum bisa saya wujudkan. Saya begitu gembira ketika
berkenalan dengan Deni-san. Saya ingin mencicil utang saya kepada Indonesia dengan berbuat sebaik mungkin dengan
orang-orang Indonesia yang saya kenal. Termasuk Deni-san dan keluarga. Untuk itu, mohon diterima pemberian
tulus ini”. Untuk beberapa saat, mukanya masih berjarak sekitar 3 sentimeter dari lantai.
Saat dia menengadah, kami saling berpandangan. Saya diam, tak bisa berkata apa-apa…
*cerita di atas merupakan cerita fiksi
huff…kirain bener” pak ceritanya..
hape fiksi do, nga serius iba manjaha sian awal..
hape ujung” na fiksi..hahahah
Btw, mantaph pak..nga cocok bpk gabe penulis
hallo pak,
baca cerita bpk seperti cerita di film2 itu
ada potensi buat skenario film ini pak
hahahahahahaha….. cape dehhhhhhhhhhhhh….. kirain beneran pak….. hape fiksi….. udah awak pikir mantab kali lah si tanaka san ini…. hape????? ahahahaha…. tp tetap, ceritanya mengharukan….. hiks… hiks….. lol