Setelah kemarin kami pergi ke taman kota (taman chiba) melihat bunga sakura, kegiatan melihat bunga sakura dilanjutkan lagi hari ini. Tepatnya mulai sore tadi, setelah pulang dari mengikuti kebaktian dan perayaan paskah di gereja berbahasa Indonesia. Kalau kemarin kami melihat sakura di taman kota yang bisa ditempuh dengan naik sepeda, hari ini kami menikmati sakura di sebuah taman yang sangat besar di daerah Tokyo. Taman ini bernama Ueno, waktu tempuh dari rumah berkisar 1 jam dengan menggunakan kereta.
Pada dasarnya, sejauh pengamatan saya taman chiba berbeda jauh dibanding taman ueno. Taman ueno relatif jauh lebih luas, bunga sakuranya jauh lebih banyak, fasilitas yang tersedia jauh lebih lengkap, pengunjungnya yang datang jauh lebih ramai dan penataan taman yang jauh lebih rapi. Namun, ada satu pemandangan yang saya lihat hampir sama pada kedua taman ini. Pemandangan yang hampir sama itu adalah rasa antusiasme yang sangat tinggi dari orang-orang Jepun terhadap bunga sakura yang mereka lihat. Sebagian besar dari mereka, yang biasanya duduk berkelompok, menggelar tikar/terpal di bawah pohon sakura. Sambil menikmati keindahan bunga sakura, mereka menikmati bir/sake dan makanan. Selain duduk di bawah sakura, mereka juga menyempatkan diri untuk berjalan di sepanjang taman, melihat-lihat bunga sakura dari dekat dan mengambil foto dengan menggunakan kamera digital atau kamera handphone. Di sana sini terdengar kata “kireeiiii” (indah sekali…) dan
“sugoiiiiii” (mantap sekali…)
Entah kenapa, saya selalu bingung dan bertanya-tanya melihat fenomena sebagian orang Jepun ini. Mengapa mereka sangat antusias dengan kemunculan bunga sakura, padahal tahun-tahun sebelumnya toch sudah terbiasa. Sudah pernah mereka lihat. Kan bunga ini muncul setiap tahun, setiap permulaan musim semi. Apa sebenarnya kekuatan bunga sakura ini. Toch baunya tak seharum bunga mawar atau daya tahannya tak setahan bunga tulip. Kalau masalah keindahan, menurut saya masih banyak bunga di Jepun yang lebih indah dibanding bunga sakura. Namun, sepanjang mata memandang, mereka telah berhasil “menyihir” masyarakat Jepun. Bahkan sebagian masyarakat di luar Jepun. Orang rela berdesak-desakan di taman hanya untuk duduk di bawah pohon sakura. Siaran televisi, selama beberapa hari belakangan ini ramai membahas di daerah mana saja bunga sakura mulai mekar. Di daerah mana bunga ini mulai layu.
Namun, terlepas dari kebingungan melihat fenomena orang Jepun dengan bunga yang satu ini, saya berpikiran bahwa bunga sakura ini memang suatu bunga yang unik. Seolah-olah, bunga ini mempunyai jimat, mempunyai “magic” yang dapat membius banyak orang. Bunga ini seolah-olah mempunyai energi potensial yang sangat besar, yang dapat mengalirkan energinya kepada orang-orang yang melihatnya. Padahal, dilihat dari segi usia, alih-alih membuat senang justru menurut saya bunga ini lebih cenderung membuat orang menjadi sedih. Mengapa tidak, usia munculnya bunga sakura ini relatif sangat singkat. Bunga sakura hanya mempunyai waktu sekitar seminggu dari proses berkembang sampai layu. Setelah itu, kita perlu menunggu setahun penuh untuk menunggu proses yang sama terulang kembali.
Tapi, justru dalam waktu yang singkat itu pula bunga ini telah berhasil “menyihir” ratusan juta orang. Telah berhasil memberi pengharapan kepada orang banyak untuk melihat keindahan, dan juga memberi suka cita bagi yang melihatnya. Sakura bisa mempertemukan orang-orang yang lama tak bertemu, menaungi keluarga yang jarang bertegur sapa, dan menjadi saksi kehangatan dan sukacita keluarga atau suatu perkumpulan. Mereka telah memfasilitasi senyum, tawa, kehangatan dan rasa ingin tahu orang banyak. Padahal, usianya sangat singkat. Hanya satu minggu.
Sambil berjalan di bawah pohon sakura, saya jadi teringat dengan ibadah minggu dan perayaan paskah yang kami ikuti pagi harinya. Walaupun konsentrasi lebih banyak tercurah untuk menjaga Hizkia agar jangan sampai mengganggu orang yang sedang berdoa atau bernyanyi, saya masih menangkap sedikit-sedikit pesan yang disampaikan oleh majelis yang memimpin ibadah dan pendeta yang menyampaikan firman. Pada kesempatan itu, mereka bercerita tentang seseorang yang telah berkarya sekitar 2000 tahun yang lalu. Meskipun hanya dalam waktu singkat, hanya sekitar 3 tahun, Dia telah berbuat banyak bagi orang-orang di sekitarnya. Karya dan perkataan-perkataan-Nya telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dari dulu sampai saat ini. Dan terlebih lagi, melalui peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya sekitar 2000 tahun yang lalu telah memberikan kebahagiaan, sukacita dan pengharapan kepada banyak orang. Padahal, waktu berkaryanya sangat singkat. Sangat singkat untuk ukuran bekerja dan berkarya saat ini.
Ach ha, saya pikir sakura hampir mirip dengan seseorang yang dibicarakan tadi pagi. Tak peduli dengan usia yang dimiliki, interval waktu untuk berkarya, tetapi keberadaan dan karyanya telah menjadi sumber kebahagiaan, sukacita dan pengharapan bagi banyak orang. Indah sekali…
akhir kata, dari bawah pohon sakura kami menyampaikan selamat hari raya paskah (paska) buat kita semua…