Air mata bercucuran di pipinya. Mungkin karena terus menerus menangis, matanya sudah memerah dan hampir bengkak. Sepertinya dia masih belum bisa menerima kenyataan yang telah dialaminya. Dia juga tak bisa membayangkan masa-masa yang akan dihadapinya.
Togi sudah hampir 6 bulan di Jepang. Dia menjejakkan kakinya di bandara Narita tepat pada puncak mekarnya bunga sakura, bulan April yang lalu. Saat itu, dengan semangat dan senyum bangga, dia berjalan menyusuri lorong pintu keluar pesawat. Di pikirannya, terlintas pesan ibunya untuk hati-hati di negeri orang. “Pantun hangoluan, tois hamagoan”, kata ibunya saat acara makan malam keluarga sehari sebelum dia berangkat ke Medan. Dia terbayang dengan acara partangiangan keluarga, yang mendoakannya agar baik-baik selama bekerja di Jepang. Dia teringat juga dengan harapan-harapan temannya naposo bulung gereja apabila dia pulang kelak ke Siborongborong setelah 3 tahun bekerja di Jepang. “Bawa uang yang banyak Lae, biar ada nanti modal kita beternak babi, seperti peternakan yang ada di Sinur”, kata salah satu temannya dalam perjalanan pulang latihan koor.
Togi memang tergolong beruntung dibandingkan dengan kawan-kawannya sesama naposo dan juga teman-teman seangkatan di SMK Siborongborong. Saat itu, sekitar 1 bulan setelah kelulusannya dari sekolah, ada informasi penerimaan tenaga kerjakontrak di Jepang. Dalam bahasa Jepangnya disebut kensyuse. Informasi itu dibuat pada spanduk yang dipampangkan di jalan lintas umum Balige-Tarutung. Sebagian besar anak muda di Siborongborong, khususnya lulusan SMK tempat Togi bersekolah tertarik dengan tawaran ini. Beramai-ramai mereka menyiapkan berkas dan kemudian mengirimkannya ke panitia seleksi di Medan. Berselang 1 minggu setelah batas waktu pengiriman berkas, panitia menetapkan calon-calon peserta yang lolos ke tahap selanjutnya, yaitu test akademik, wawancara, dan kesehatan. Togi termasuk 15 orang calon yang diundang dari kecamatan Siborongborong. Mereka semua mengikuti test di Medan, tepatnya di kantor PT Multijaya, agen penyalur tenaga kerja kontrak ke Jepang.
Sebenarnya Togi bukanlah orang paling pandai di antara 15 orang utusan Siborongborong yang mengikuti seleksi. Prestasi di kelas saja, dia hanya masuk 5 besar. Masih di bawah Anton, teman sepermainannya sejak sekolah dasar. Namun entah kenapa, hasil seleksi berkata lain. Dari semua rombongan, hanya dia yang dinyatakan lulus semua rangkaian test. Dia dinyatakan lolos sebagai calon yang akan bekerja di salah satu perusahaan yang ada di kota Shizuoka, Jepang. Setelah hasil test resmi dia peroleh melalui surat, dia diminta untuk mengurus paspor secepatnya. Setelah itu, dia harus cepat-cepat ke Jakarta. Tempatnya di pusat pelatihan tenaga kerja depnaker, untuk mengikuti program persiapan sebelum berangkat.
Sebelum berangkat, sudah banyak rencana yang dia buat selama berada di Jepang. Khususnya rencana terhadap uang yang akan dia dapatkan selama bekerja. Ketika memperoleh selentingan dari staf agen penyalur tenaga kerja bahwa mereka bisa memperoleh 80rb yen setiap bulannya, dia sudah langsung membuat alokasi calon pendapatannya itu. 15rb akan dia kirimkan rutin tiap bulan kepada ibunya, 40rb dia tabung untuk modal di kemudian hari, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau sekiranya dia punya peluang lembur seperti yang dijelaskan oleh staf depnaker itu, setengah dari hasil lembur dialokasikan untuk tambahan tabungan, sementara setengah lagi untuk menambah biaya kebutuhan hidup di Jepang. Itulah angan-angannya.
Selama 5 bulan, semua rencana Togi berjalan mulus. Dia rutin mengirimkan uang sejumlah 15rb yen ke ibunya. Dia ingin membantu ibunya membiayai sekolah adik-adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Sejak ayahnya meninggal karena sakit paru-paru sekitar 4 tahun yang lalu, hanya ibunya lah yang berjuang untuk membiayai hidup dan sekolah Jogi serta 2 adiknya. Kondisi ini juga yang membuat tekad yang kuat di hati Jogi untuk membantu ibunya suatu hari kelak. Kalau dia sudah bekerja.
Uang yang 40ribu, yang dia khususkan untuk tabungan, disimpanya di rekening khusus. Seminggu setelah tiba di Jepang, dia langsung membuat dua rekening. Satu khusus untuk gaji dan kebutuhan sehari-hari, satunya lagi untuk tabungan. Tekad kuat untuk membuka usaha merupakan pemicu semangatnya untuk menabung. Sejak duduk dibangku kelas 2 SMK, Togi sudah punya angan-angan untuk membuka usaha pertanian dan peternakan.
Inspirasi pertama dia peroleh setelah mengunjungi balai peternakan Sinur, balai peternakan yang dikelola oleh pemerintah. Dia kagum dengan pengelolaan peternakan disana. Bersih, rapi dan produksinya relatif besar. Selain itu, Togi juga sangat mengagumi sosok seorang Bob Sadino. Pengusaha yang berhasil dalam bidang agrobisnis. Sosok yang dinamis,yang bisa membangkitkan gairah orang-orang untuk menggeluti pertanian dan peternakan. Itu jugalah yang selalu penyemangat bagi Togi untuk menjaga dan mencapai impiannya. Yang menjadi penyemangat baginya untuk menabung hampir setengah pendapatannya setiap bulan. Dia ingin punya lahan luas, yang akan ditanami jeruk dan kopi. Dia membutuhkan modal awal untuk beternak babi dan ayam kampung. “Aku ingin punya ternak babi sebanyak 1000ekor, dan ayam kmpung sebanyak 5000ekor”, katanya suatu saat ketika wali kelasnya bertanya tentang cita-citanya.
Selain untuk ibunya, apabila diminta, kadang-kadang dia juga harus mengirimkan uang kepada keluarga yang tinggal di kampung. Dia pernah mengirim uang ketika laenya, anak tulangnya yang mengalami kecelakaan dan harus masuk rumah sakit. Dia ikut memberi dana pada saat pesta tambak keluarga sekitar 3 bulan yang lalu. Mungkin orang di kampung, khususnya keluarga sudah menganggap Togi sukses besar. Mempunyai gaji besar. Sehingga kalau ada kebutuhan uang di keluarga, sering ada ungkapan di antara anggota keluarga, “Mintalah dulu dikirim si Togi yen dari sana, gajinya kan besar”. Padahal, sebenarnya bisa dikatakan kalau Togi sudah memaksakan diri untuk menyisihkan uang yang akan dikirim untuk keluarga yang lain. Dia harus menghemat kebutuhannya sehari-hari. Dan kalau yang diminta relatif besar, Togi terpaksa mengurangi tabungan bulanannya.
Air mata Togi semakin deras bercucuran. Sambil menutup mata, dia berteriak dengan kencang ketika teringat peristiwa tragis 4 hari yang lalu. Peristiwa memilukan yang membuyarkan semua rencananya. Menghambat cita-citanya. Menghentikan niat baiknya untuk berbagi dengan ibunya.
Dalam hatinya selalu berkecamuk pertanyaan senada, “mengapa”. Mengapa dia harus menerima tawaran manajer bengkel untuk kerja lembur hari Minggu yang lalu. Padahal, kalau dia memilih untuk mengikuti ajakan sahabatnya, Doni, untuk kebaktian di gereja Tokyo tentu cerita akan lain. Mengapa dia menyodorkan diri untuk membersihkan plafon bengkel itu. Mengapa tidak memilih untuk merapikan perkakas di halaman bengkel. Mengapa gempa harus datang di hari Minggu kelabu itu? Gempa yang membuat pijakan yang dia gunakan goyang. Yang membuatnya terjatuh dari ketinggian 15 meter. Kalaupun jatuh, tapi mengapa pula lukanya separah itu. Yang membuatnya harus cacat seumur hidup, harus berteman dengan kursi roda.
Banyak pertanyaan bernada “mengapa” di hatinya. Tapi, tak satupun jawaban yang muncul. Yang pasti, dia harus kembali ke Siborongborong minggu yang akan datang. Yang pasti impiannya buyar, cita-citanya lenyap. Dan satu hal yang paling menyakitkan hatinya, dia tak bisa lagi membantu ibunya. Inilah yang paling ditangiskannya.
*cerita di atas merupakan cerita fiksi
benar-benar bikin terharu…senang bergabung dengan blog ini, kelak akan sering2 mengunjungimya..:)