<tulisan saat Indonesia kalah dengan Malaysia di piala AFF 2010>
Orang-orang yang menggandrungi sepak bola atau yang mengikuti perjuangan timnas sepakbola Indonesia pada kejuaraan AFF 2010 kemungkinan besar sangat kecewa dengan hasil yang diperoleh oleh timnas kemarin malam. Saya sendiri merasakan kekecewaan itu. Malah, sampai-sampai mendapat ancaman karena tidak bisa mengontrol kekecewaan. Pertama-tama, saya berteriak keras ketika terjadi gol pertama. Teriakan yang tidak terkontrol ini membangunkan istri. Saat bola merobek gawang Markus untuk kedua kalinya, teriakan saya yang lebih keras sambil memukul meja akhirnya membangunkan istri dan anak. Dan pada gol yang ketiga, saya mengumpat, langsung mematikan siaran pertandingan pada star tv online, sambil memukul-mukul meja. Di sinilah ancaman itu datang. Istri akhirnya memberikan ultimatum, kalau saya masih melakukan tindakan yang sama maka untuk ke depan tidak akan diijinkan lagi menyaksikan pertandingan timnas. Kalaupun mau menonton timnas maka tak bisa lagi dilakukan di dalam rumah.
Mengenai pertandingan tadi malam, saya melihat permainan Indonesia mulai terganggu sejak terjadinya gol pertama. Gol yang terjadi akibat kesalahan pemain belakang itu telah membuat konsentrasi tim buyar. Seolah-olah tak tahu berbuat apa di lapangan. Konsentrasi yang buyar membuat pemain-pemain Malaysia semakin mudah mengolah si kulit bundar di wilayah pertahanan timnas. Dan akhirnya, gempuran demi gempuran di pertahanan yang rapuh menambah pundi gol Malaysia menjadi tiga.
Padahal, sebelum terjadinya gol pertama, sebenarnya timnas sudah menunjukkan peningkatan di awal babak kedua. Setelah banyak mendapat serangan di babak pertama, di awal babak kedua timnas langsung menunjukkan perubahan. Kerja sama tim yang baik sudah berhasil menciptakan beberapa peluang. Hanya sayang, sekali lagi, kesalahan yang berbuah satu gol untuk tim lawan telah memadamkan semangat membara di awal pertandingan. Tim kita susah bangkit. Pergantian pemain tidak mampu mengangkat semangat tim dan akhirnya timnas kita mengalami kekalahan yang sangat memilukan.
Kalau saya perhatikan di media online dan media jejaring sosial, banyak orang yang memberikan tanggapan terhadap kekalahan timnas ini. Banyak yang bersedih, banyak yang kecewa, namun banyak juga yang tetap berpikiran optimis. Ada yang menyalahkan laser, ada yang menyalahkan tindakan PSSI, khususnya Nurdin Halid, yang beberapa kali membawa anggota timnas ke acara-acara yang tak berhubungan dengan persiapan timnas, ada yang menyalahkan para politikus yang ikut-ikutan jual muka, dan ada juga yang menyalahkan euforia media yang lebay. Media yang tak proporsional dan berlebihan.
Saya sih, untuk beberapa hal sepakat dengan pandangan banyak orang itu. Laser memang mengganggu, bisa mengurangi konsentrasi pemain. Nurdin Halid memang lebay, cari muka, dan tak tahu kebutuhan tim. Para politikus itu juga lebay. Sebelumnya tak pernah berkomentar tentang bola, tetapi setelah timnas diangkat sampai langit ke tujuh, mereka ikut-ikutan mau jual muka dan ingin ikutan terangkat sampai langit kelima. Dan yang terakhir, sebagian media kita sangat-sangat lebay dan tak proporsional. Mereka ikut andil membuat euforia yang berlebihan ini. Siaran mereka yang mengagung-agungkan kemenangan timnas di babak-babak awal dan semifinal sampai-sampai tidak menyediakan ruang untuk kata “kalah” yang kemungkinan akan dialami oleh timnas. Dalam berbagai kesempatan, siaran mereka itu sering menekankan bahwa timnas hebat, timnas jago dan harus menang. Harus juara. Jarang mengangkat isu kalau arena AFF ini adalah suatu kompetisi saja, dimana ada yang menang dan ada yang kalah. Ada yang juara dan ada yang runner up.
Namun, walaupun hal yang disebutkan di atas sangat mengganggu, tak bisa juga kita bersembunyi di balik itu semua. Tak bisa dijadikan kambing hitam. Kalau saat ini kita kalah ya memang harus mengaku kalah. Kita harus mengaku bahwa mental kita masih kurang baik, konsentrasi kita masih cepat buyar. Itu saja. Dan kalau mau ditambah untuk membesarkan hati, kita bisa berkata kalau timnas kita masih belum bernasib mujur. Coba saja tendangan Bustomi tidak melebar, coba saja Gonzales tidak terperangkap off side saat menceploskan bola di awal babak kedua, tentu semua akan beda.
AFF hanyalah sebuah turnamen sepak bola, sama dengan piala dunia, piala eropa, piala asia, dan piala champion. Ada yang kalah dan ada yang menang. Yang jago belum tentu menang dan yang kurang jago belum tentu kalah. Ada yang harus kecewa dan ada yang akan bersorak-sorai.
Dalam hal kekecewaan ini, baik juga kalau kita menyimak umpasa Batak berikut: “Hotang binebebebe, hotang pinulos-pulos. Unang hita mandele, ai godang do tudos-tudos”. (Dalam satu hal yang memilukan janganlah terlalu bersedih karena banyak contoh yang bisa kita lihat). Kita bisa melihat kesedihan Belanda saat EURO Cup 2000. Mereka bertindak sebagai tuan rumah, sangat diunggulkan, mereka dapat dua pinalti di waktu normal, namun akhirnya gagal melenggang ke final karena dikalahkan Italia dalam drama adu pinalti. Kesedihan Belanda juga terjadi pada EURO 2008. Di babak awal, mereka tampil dengan sangat meyakinkan. Menghantam Italia (juara dunia) 3-0, menghantam Perancis 4-1, dan menjinakkan Romania 2-0. Namun, di babak perempat final, tanpa diduga-duga, mereka dibuat babak belur oleh tim asuhan Guus Hiddink, Rusia dengan skor 1-3. Demikian juga dengan Argentina di Piala Dunia 2010. Dengan materi pemain-pemain berbakat, khususnya Messi yang top markotop di Barcelona, mereka sangat diunggulkan meraih gelar juara. Setelah berhasil melangkah dengan yakin di babak awal dan perdelapan final, akhirnya mereka dipecundangi Jerman di perempat final. Semua pendukung Argentina di dunia ini, termasuk saya, mengalami kekecewaan melihat kenyataan pahit itu.
Untuk timnas Garuda, sama dengan rekan-rekan yang masih menyimpan optimisme, saya juga ingin menyampaikan bahwa dunia belum berakhir akibat kekalahan tadi malam. Pertandingan di Bukit Jalil bukanlah akhir dari perjuangan timnas Garuda. AFF 2010 bukanlah impian terakhir. Selain pertandingan lusa, masih banyak pertandingan-pertandingan lain yang harus dihadapi oleh tim Garuda. Masih ada sea games, piala asia, pra olimpiade, pra piala dunia, dll. Sekali lagi, pertandingan lusa bukanlah pertandingan terakhir bagimu.
Karena itu tetaplah semangat, jangan ragu dan bimbang. Asah mental dan tingkatkan konsentrasi. Piala AFF memang penting, tetapi piala AFF bukanlah segala-galanya. Kami ingin melihat pertandingan-pertandingan yang menarik lagi dari timnas garuda. Kami juga ingin melihat semangat timnas Garuda di piala AFF dua tahun mendatang, persiapan piala Asia, dan bahkan persiapan piala dunia. Majulah tim garuda, pertandingan belum berakhir…
Oh iya, karena emosi yang berlebihan, tadi malam saya sudah sempat berjanji di dalam hati untuk tidak menyaksikan perjuangan timnas Garuda pada tanggal 29 Desember mendatang. Namun, entah kenapa, tak sampai berselang 2 jam janji dalam hati itu sudah saya tarik. Hati kecil berkata lain. Saya akan tetap menonton timnas Garuda, memberi semangat dari jauh, apapun hasilnya…Majulah tim garuda, pertandingan belum berakhir…